Dawn Wars: Twilight of the Winds -Chapter #2- (uncomplete)

.:Dawn Wars: Twilight of the Winds :.


-Chapter #2 Promises-

" A man is a man of his words...
As words are proven by deeds"



Pagi itu Kou bangun pagi-pagi sekali dan memutuskan untuk berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Di salah satu sisi desa itu ada sebuah dermaga yang mengarah ke laut , para nelayan telah tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing- masing, Kou yang melihat kegiatan itu merasa tertarik dan mendekati mereka. Dia melihat bagaimana para nelayan itu menurunkan hasil tangkapan mereka, ikan yang mereka tangkap hari itu cukup banyak, sekilas Kou terbayang akan masa lalunya.

2 tahun sebelumnya....
Kou berjalan di pinggir sebuah pantai, dia sedang dalam tugasnya untuk mengumpulkan informasi dari Clan Muse. Saat itu dia melihat seorang gadis kecil sedang menangis dari kejauhan, karena merasa kasihan dia akhirnya mendekati gadis kecil itu.
"Hei...kamu nggak apa-apa?" Tanya Kou sambil membungkukkan badannya kearah gadis itu, gadis itu melihat kearah Kou dan segera berlari. Kou menegakkan badannya dan melihat kemana gadis itu pergi, gadis itu berlari ke sebuah rumah kecil tidak jauh dari tempat Kou berdiri. Kou melangkahkan kakinya mendekati rumah itu, saat sampai tepat di rumah itu Kou melihat pintu rumah itu terbuka, dan gadis itu duduk menangis di pojok ruangan, ruangan lebar yang menjadi satu-satunya ruangan yang ada di rumah itu. Perlahan Kou mendekati rumah itu dan masuk, gadis kecil itu semakin merasa ketakuan, dia semakin merapat kepojok ruangan.
"Hmm...maaf, aku bikin kamu takut yah?" Kou berhenti mendekati gadis itu, kemudian dia melihat sekelilingnya, kertas-kertas berserakan dimana-mana, Kou memungut salah satunya. Kou melihatnya dan di atas kertas itu tergambar lambang Clan Muse, dan dibawahnya tertulis [Tirtarus Museria]. Kou meletakkan kertas itu dan memandang ke arah gadis itu.
"Ini semua, gambaranmu?" tanya Kou sambil tersenyum, gadis itu tetap diam. Kou menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, dia sedang bingung, dalam hatinya dia ingin menolong gadis itu, tapi sekarang dia sedang dalam tugas yang penting. Saat Kou membuka matanya dia melihat secarik kertas lain, di atas kertas itu tertulis sebuah nama, Yuki Emerald.
"Yuki Emerald? namamu?" tanya Kou sambil menunjukkan kertas itu kepada gadis itu dan gadis itu mengangguk pelan, Kou mengulurkan tangannya.
"Kou, Kou Yukishiro" kata Kou sambil tersenyum. Yuki pelan-pelan meraih tangan Kou.

Kou duduk di samping Yuki, dia sudah tidak menangis lagi dan sepertinya dia sudah mulai tidak takut akan kehadiran Kou di dekatnya.
"Kenapa kamu disni? dimana orangtuamu?" tanya Kou, Yuki menoleh ke arah Kou, kemudian mengambil sebuah kertas dan mulai menulis. Dia memberikan kertas itu kepada Kou, Kou menerimanya kemudian membacanya.
'Aku ada disini karena aku ditolak oleh keluarga dan anggota clan ku, sekarang aku hanya seorang outcast, aku tidak punya orang tua lagi' Kou terkejut saat membacanya, dia mengalihkan pandangannya kearah Yuki dan melihat wajah sedih seorang anak berumur 5 tahun yang ada di sampingnya. Kou bangkit dan kembali megulurkan tangannya kepada Yuki.
"Kamu lapar ga? kita makan yuk" kata Kou, Yuki menatap Kou kemudian meraih tangan Kou, mereka berdua berjalan menyusuri pantai, berharap menemukan tempat dimana mereka bisa membeli makanan. Saat mereka berjalan mereka melihat beberapa nelayan sedang menurunkan ikan-ikan hasil tangkapan mereka, salah satu dari para nelayan itu tiba-tiba menghampiri mereka sambil membawa beberapa hasil tangkapan mereka.
"Yuki, lihat hasil tangkapanku hari ini banyak sekali, ini buat kamu" kata nelayan itu dengan senyumnya, Yuki tersenyum dan menerima ikan yang diberikan oleh nelayan itu.


'Plakk...!!' tiba-tiba Kou merasa ada yang menepuk pundaknya dengan keras, dia menoleh, Fayleen ada dibelakangnya sambil tersenyum dan membawa beberapa ekor ikan ditangannya.
"He he he...lihat seorang nelayan menjual ikan-ikan ini dengan harga yang sangat murah" kata Fayleen sambil menunjukkan ikan yang dibawanya. Kou yang baru tersadar dari lamunannya terdiam beberapa saat, Fayleen pun ikut bengong, dia melihat wajah Kou yang terlihat sedih.
"Huh, masih mau menyimpan masalahmu sendiri yah? ya sudah" kata Fayleen sambil berbalik dan beranjak pergi, meninggalkan Kou yang menatapnya dengan pandangan kecewa. Kou sangat menyukai ikan, karena itu dia segera berlari mengejar Fayleen ke Inn, Fayleen sudah sibuk memasak ikan itu di dapur inn. Fayleen melihat kehadiran Kou dan memasang wajah cemberut.
"Pemilik inn ini baik hati, aku diijinkan memakai dapur inn untuk masak ikan ini sendiri" kata Fayleen sambil terus memasak, Kou memandang Fayleen dengan wajah penuh harapan.
"Ehh? nggak ada bagian buat kamu" kata Fayleen sewot saat dia melihat ekspresi wajah Kou yang tampak seperti anak kecil yang berharap kepada orang tuanya. Kou menunduk, dan perlahan berjalan keluar dengan lesu, dia duduk di meja bar dan membaringkan kepalanya di meja bar. Tak lama kemudian Fayleen datang sambil membawa hasil masakannya.
"Wah enak......." kata Fayleen sambil duduk, Kou kembali menatap Fayleen dengan wajah penuh harapan membuat Fayleen tertawa saat melihat wajah Kou.
"Oke, kamu boleh makan" kata Fayleen, membuat ekspresi wajah Kou berubah gembira.
"Tapi, janji, nanti kamu akan cerita masalahmu" lanjut Fayleen, Kou mengangguk dengan semangat, Fayleen tersenyum, mereka berdua pun akhirnya mulai makan.

2 Tahun sebelumnya...
Yuki yang menerima ikan pemberian nelayan itu tersenyum, seakan kesedihan yang tadi dirasakannya menghilang begitu saja. Kou diam-diam memperhatikan perubahan emosi Yuki, dan saat dia melihat senyum Yuki yang begitu polos dia meyakinkan dirinya untuk menolong gadis kecil itu. Yuki menarik tangan Kou dan mengajaknya kembali ke rumah sempit itu lagi, di dalam Yuki membersihkan dan memasak ikan itu, sebentar saja ikan itu telah menjadi hidangan yang membuat Kou merasa ingin segera menyantapnya. Mereka berdua makan dengan lahap, keinginan Kou untuk menolong anak itu semakin kuat saat dia melihat Yuki makan dengan lahapnya, wajah mungil Yuki yang belepotan saat makan membuat Kou tertawa.

Tiba saatnya untuk Kou kembali ke Pandemonia untuk melaporkan hasil pantauannya, Kou mengajak Yuki untuk ikut bersamanya. Setelah berpamitan dengan nelayan baik hati itu mereka segera berangkat menuju Pandemonia. Kou meninggalkan Yuki di rumahnya saat mereka tiba di Pandemonia, dan dia segera menemui pemimpin desa Pandemonia untuk memberikan laporannya sekaligus meminta ijin untuk merawat Yuki.
"Ketua, clan Muse saat ini sedang melatih organisasi mereka, Order of Sylmeria untuk menghadapi Dawn Wars kedua nanti. Tapi sepertinya mereka tidak berniat untuk berperang, mereka melatih pasukan mereka untuk menjadi Priest. Sepertinya kita tidak perlu mengadakan permusuhan dengan mereka" kata Kou di depan pemimpin clan Gale memberikan laporannya.
"Tugasmu hanyalah sebagai pengawas, apa langkah selanjutnya itu hanya kami, para [Elder of Galeus] yang memutuskan, sekarang kembalilah ke rumahmu dan bersiaplah untuk perintah berikutnya" kata pemimpin clan Gale itu.
"Baik ketua, dan, ah...Bisa saya meminta ijin untuk merawat seorang anak yang kebetulan saya temukan dalam perjalanan? dia tidak punya siapa-siapa lagi" kata Kou.
"Anak yang kamu bawa itu, dia anggota clan Muse, dia tidak diterima disini" jawab sang pemimpin, menolak permintaan Kou.
"Tapi, dia seorang outcast, dia bukan lagi anggota clan Muse" Kou berusaha untuk mempertahankan permintaanya.
"Kou, sekali anggota clan lain, berarti orang itu akan tetap menjadi musuh kita" kata sang ketua tetap pada pendiriannya.
"Tapi..." belum selesai Kou bicara, kata-kata Kou segera dipotong oleh sang Ketua.
"Tidak bisa!! kalau kamu tetap memaksa, kamu akan dikeluarkan dari desa ini, peraturan adalah peraturan, bagi yang melanggar peraturan akan diberikan hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya" Sang ketua mulai mengancam Kou, kou tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia segera meninggalkan ruang pertemuan dan kembali ke rumahnya.

Saat tiba dirumahnya Kou disambut oleh Yuki, Kou terdiam saat melihat Yuki berlari kearahnya sambil tersenyum, sakan-akan mengatakan 'selamat datang di rumah Kou'. Kou mengajak Yuki masuk kerumah dan menceritakan tentang apa yang ketua clan katakan.
"Yuki, kamu tidak diterima disini, bagaimanapun kamu tetap berasal dari clan Muse, dan kalau aku tetap berusaha untuk merawatmu, aku juga akan menjadi seorang outcast" kata Kou sambil memegan kepala Yuki, wajah Yuki berubah menjadi sedih, dia kemudian berlari dan mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu diatasnya, kemudian memberikannya kepada Kou.
'Kou aku tidak apa-apa kok, aku bisa hidup sendiri di [Celes Beach]. Terima kasih sudah berusaha untukku, aku sangat senang' Kou menjadi sangat sedih saat mebaca tulisan Yuki itu, dia melihat Yuki dan kemudian memeluknya.Kou merasakan rasa kesepian yang dialami oleh Yuki, karena selama ini dia juga diacuhkan oleh keluarganya. Yuki berjalan keluar, di depan rumah Kou telah bersiap beberapa orang yang akan mengantar Yuki. Kou melihat kepergian Yuki dari depan rumahnya, sesaat kemudian dia memantapkan hatinya dan berlari menemui ketua clan.
"Ketua, maaf, mulai hari ini, aku bukan lagi anggota clan Gale lagi" kata Kou, kemudian dia segera berbalik dan mengejar Yuki.
"Hmm...Kalau begitu kamu sudah memutuskan untuk menjadi lawan kami, KOU..." kata ketua clan saat melihat Kou pergi.
"Yuki tunggu..." teriak Kou saat dia berhasil mengejar Yuki, para pengawal yang mengawal Yuki segera menarik pedang mereka.
"Kou, dia tidak layak untuk tinggal disini" kata salah satu dari pengawal itu.
"Dia tidak perlu tinggal disini, aku yang akan pergi bersamanya" jawab Kou dengan nafas yang memburu, para pengawal itu terkejut mendengar kata-kata Kou.
"Kenapa...? Demi seorang anak dari clan Muse kamu mau meninggalkan clanmu sendiri?" salah saru pengawal itu bertanya kepada Kou.
"Karena dia lebih membutuhkanku daripada clan ini" jawab Kou sambil mendekati Yuki dan beranjak pergi, menghilang ditengah lebatnya hutan yang menyembunyikan desa Pandemonia.
Kou berjalan bersama Yuki menyusuri hutan itu, mengandeng tangan Yuki dengan erat sambil terus meyakinkan hatinya bahwa ini adalah jalannya, dan ini adalah jalan yang tepat. Yuki melihat wajah Kou yang saat itu terlihat begitu kacau, kemudian dia menunduk sedih, dia merasa telah menyusahkan Kou.
"Yuki..." tiba-tiba kou memanggil Yuki, Yuki mengangkat kepalanya kearah Kou, memandangnya dengan wajah yang seakan bertanya 'ada apa?'
"Mulai sekarang...aku yang akan menjagamu" kata Kou sambil tersenyum, dia sudah yakin dengan keputusannya, Yuki masih menatap wajah Kou, perlahan dia mulai tersenyum.
"Janji, aku akan selalu menjagamu, mulai sekarang kamu nggak akan kesepian lagi" kata Kou sambil membungkuk dan memegang kepala Yuki dan Yuki mengembangkan senyum di wajah kecilnya.


Kou berhenti bercerita,menyandarkan diri di kursinya dan menarik nafas panjang. Fayleen yang terkesan dengan cerita Kou masih terpaku menatap Kou.
"Yah, itu yang jadi masalahku, sekarang aku malah meninggalkan dia kepada Apostle of Destiny, semoga dia baik-baik saja yah" kata Kou sambil menatap ke langit-langit. Fayleen berdiri tanpa menjawab pertanyaan Kou.
"Ternyata, di dunia ini masih ada orang baik yah?" kata Fayleen sambil tersenyum dan berjalan keluar inn, meninggalkan Kou yang sedikit terkejut dengan kata-kata Fayleen. Kou kembali menarik nafas panjang dan akhirnya juga beranjak keluar untuk kembali mencari informasi tentang Alche. Di luar inn Kou melihat para penduduk sedang berkerumun, dengan rasa heran Kou mendekati kerumunan itu, Fayleen sudah berada di sana, tanpa menyadari kehadiran Kou.
"Ada apa?" tanya Kou
"Hah?? oh Kou..." kata Fayleen terkejut.
"Ada pencuri yang tertangkap" lanjut Fayleen.
Kou melihat ke tengah-tengah kerumunan, dia melihat seorang laki-laki dengan jubah yang lusuh sedang di hajar oleh para penduduk.
"Enflame!!"
Tiba-tiba saja tanah di dekat kerumunan itu meledak, seorang laki-laki lain muncul dari kejauhan.
"Jauhi dia! kalau tidak aku akan membunuh kalian semua!" kata laki-laki itu.
"Kalian Cerberus hanya bisa membuat keributan saja, cepat pergi dari desa ini sebelum kami benar-benar marah" kata seorang penduduk, kemudian kerumunan itu bubar.

Laki-laki itu kemudian berlari mendekati temannya dan membantunya berdiri sambil menoleh dengan dengan geram kearah para penduduk yang tadinya memukuli temannya, kemudian dia kembali memandang kearah temannya.
"Flarren, kamu nggak apa-apa kan?" tanya laki-laki itu, temannya yang tadi dihajar warga itu hanya mengangguk pelan.
"Ah, kalian pasti anggota [Card Alchemist Cerberus ] kan?" tanya Fayleen.
"Ya, kami anggota Card Alchemist Cerberus, aku Felix Far Highwind, dan ini Flarren Leonheart " jawab laki-laki itu, sambil membantu temannya bangkit berdiri.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Fayleen.
"Arc meminta kami untuk mengkonfirmasi keberadaan Deshtal" jawab Felix.
"Hm? Apa hubungannya Cerberus dengan Deshtal?" tanyan Fayleen sambil mendekati Flarren dan melihat luka-lukanya.
"Untuk mencegah Dawn Wars" jawab Flarren pelan, Fayleen hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Kemudian dia mengeluarkan obat-obatan yang dia simpan di tas pinggangnya dan mengobati luka-luka Flarren.
"Kenapa sampai harus mencuri seperti ini?" tanya Fayleen kepada Flarren sementara dia mengobati luka Flarren, Flarren terdiam sesaat mendengar pertanyaan Fayleen.
"Aku...Aku..." belum selesai Flarren menjawab Felix memotong kata-kata Flarren.
"Kami cuma ingin mengambil apa yang dicuri dari kami" Fayleen terdiam, membetulkan posisi kacamatanya dan kembali meneruskan pengobatannya kepada Flarren.
"Sudah selesai, kamu akan baik-baik saja" kata Fayleen.
"Terima kasih" jawab Flarren singkat.
"Kalian berhati-hatilah, banyak orang yang tidak menyukai kalian, sampai jumpa" kata Fayleen sambil beranjak pergi meninggalkan mereka, diikuti dengan Kou.

Kou hanya mengekor di belakang Fayleen saat Fayleen mengumpulkan informasi tentang Deshtal kepada para penduduk. Seharian itu mereka mengumpulkan informasi, dan tidak ada hasil yang memuaskan bagi mereka berdua, sore harinya mereka kembali ke inn karena kelelahan. Mereka berdua duduk di bar inn sambil makan, Fayleen menatap wajah Kou, ada yang dia pikirkan, dan dugaan Fayleen tentang Kou selalu benar.
"Flarren itu, aku seperti mengenalnya" kata Kou, Fayleen tersenyum mendengar perkataan Kou.
"Haha...kamu sudah mau membuka diri yah?" tanya Fayleen menggoda Kou, Kou mengalihkan pandangannya ke atap sambil memegangi lehernya.
"Yah, mungkin" jawab Kou singkat. Mereka kembali diam sesaat, Fayleen terus memandang wajah Kou, dan Kou hanya diam saja sambil meneruskan makannya. Setelah makan mereka menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Kou duduk di dekat jendela kamarnya yang lebar, dia melihat ke atas, ke arah bintang-bintang yang bertebaran di langit malam itu. Wajahnya terlihat sedih, Kou meraih sesuatu dari sakunya, sebuah kalung dengan aksesoris sebuah batu langka tergantung di kalung itu, kemudian dia memandangi barang itu dan bayangan masa lalunya kembali muncul dihadapannya...

2 Tahun Sebelumnya...
Kou dan Yuki tiba di sebuah kota yang cukup besar, dari papan di depan kota itu mereka mengetahui kota itu bernama [Inercia City], kota yang cukup sibuk dengan banyaknya orang yang berjalan kesana-kemari, kota itu memiliki teknologi yang sangat maju, dilihat dari adanya beberapa pabrik dan banyaknya kendaraan yang sudah menggunakan mesin, berbeda dengan yang selama ini mereka gunakan, selain dengan menggunakan hewan tunggangan dan kereta api, di kota ini ada kendaraan yang ukurannya jauh lebih kecil dan bermesin. Mereka memasuki kota itu dan mulai mencari tempat untuk bermalam, dan mereka dengan segera dapat menemukan inn. Mereka menuju bar di inn itu untuk makan, setelah memesan makanan mereka berdua duduk dan mulai makan. Saat itu Kou melihat seorang laki-laki berambut coklat dan mengenakan jubah masuk ke bar itu bersama seorang anak kecil, kemudian mereka duduk makan. Kou memperhatikan mereka, dia tersenyum, kemdian dia melihat Yuki yang sedang makan dengan lahapnya, Yuki berhenti makan saat Kou menatapnya dan memberikan seyuman kepada Kou, Kou terseyum dan kembali makan. Sesaat setelah mereka selesai makan Kou kembali memperhatikan laki-laki dan anak kecil itu, mereka sudah selsesai makan, dan setelah laki-laki itu membayar makanannya dia mengusap kepala anak kecil itu, anak itu tersenyum kemudian dia mengucapkan terima kasih dan pergi, sementara laki-laki itu berjalan menuju ke dalam inn. Kou terheran dengan apa yang dilihatnya, dia segera bangkit.
"Yuki, ayo kita istirahat" Kata Kou sambil mengulurkan tanganya kepada Yuki, Kou menggandeng tangan Yuki. Setelah membayar makanan mereka, Kou berjalan menuju ke kamarnya sambil tetap menggandeng Yuki. Saat tiba di kamar mereka, Kou kembali melihat laki-laki itu, dia sedang berbicara dengan laki-laki lain, seseorang dengan rambut lurus pendek berwarna hitam yang terlihat sangat tenang . Kou tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka.
"Arc, rumor tentang Dawn Wars sudah menyebar, kabarnya ada satu kelompok yang mencoba membangkitkan kembali the Priests untuk mencegah Dawn Wars, dan mereka sama sekali tidak melihat perbedaan golongan, baik antar clan ataupun commoner, mungkin kita bisa bergabung dengan mereka untuk mencegah Dawn Wars" kata laki-laki berjubah itu kepada temannya, Arc.
"Yah, kita bisa bergabung dengan mereka, kita punya tujuan yang sama, paling tidak semakin banyak semakin bagus, konfirmasikan lokasi mereka dan beritahu Felix tentang ini" kata Arc.
"Lokasi mereka saat ini berada di dekat desa tersembunyi clan air, Tirtarius. Aku akan memeriksa ulang lokasi pastinya dan mengabari Felix tentang hal ini" kata laki-laki itu.
"Terimakasih, Flarren" balas Arc, kemudian Flarren segera berlalu, Kou kemudian mendekati Arc.
"Permisi, boleh tanya?" tanya Kou.
"Ya? ada yang bisa dibantu?" jawab Arc.
"Tentang Order of Sylmeria itu, aku tahu lokasi pastinya, apa benar mereka mau menerima siapa saja?" tanya Kou lagi.
"Dari cerita Flarren seharusnya begitu" jawab Arc, Kou tersenyum mendengar jawaban Arc, sementara Yuki memandangi Kou dengan bingung.
"Tadi kamu bilang kalau kamu tahu lokasi pasti Order of Sylmeria, apa kamu bisa mengantarkan kami kesana?" tanya Arc.
"Yah, dengan senang hati" jawab Kou dengan tersenyum, Arc kemudian mengulurkan tangannya.
"Arch Millich Fortehydes, senang bertemu denganmu" kata Arc setelah Kou meraih tangan Arc.
"Kou, Kou Yukishiro, senang bertemu denganmu juga, dan ini Yuki Emerald, ehmm...dia tidak banyak bicara" kata Kou, Arc memandang Yuki dan tersenyum.
"Besok kita ketemu di bar inn ini" kata Arc sambil mengalihkan pandangannya kepada Kou, Kou menganggukan kepalanya.
"Sampai besok" kata Kou, dan mereka beranjak menuju kamar mereka masing-masing.


Kou tersadar dari lamunannya, sekarang dia ingat tentang Flarren, kenapa dia merasa mengenalnya, dia memang mengenal Flarren walau hanya sepintas, dan sekarang dia benar-benar ingat pertemuannya dengan Flarren dua tahun lalu, yang membawanya kepada Order of Sylmeria. Dia bangkit dari tempatnya duduk, beranjak keluar dari kamarnya menuju kamar Fayleen, dia baru menyadari hari telah larut malam saat dia hendak mengetuk pintu kamar Fayleen.
"Hahah...kenapa aku ini yah?" Kou berbicara pada dirinya sendiri sambil tertawa, kemudian dia berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Dia membaringkan dirinya dan berusaha untuk tidur.

'Tok tok tok' Kou terbangun karena suara ketukan pintu kamarnya. Dia bangkit dan membuka pintu, Fayleen sudah berdiri di depan pintu itu dengan wajah marah, Kou yang tadinya terlihat lesu karena masih mengantuk menjadi benar-benar 'sadar'.
"Kamu tahu ini jam berapa?" tanya Fayleen dengan nada marah.
Kou menggaruk kepalanya sambil menoleh kesana kemari mencari sebuah jam. Dia benar-bnar tidak tahu jam berapa waktu itu, dan dia juga tidak sadar kalau dia sudah benar-benar kesiangan.
"Ahh...aku tidak tahu" jawab Kou dengan wajah tidak berdosa.
"Ini sudah jam 11, mau tidur sampai jam berapa kamu?!!" tanya Fayleen setngah berteriak dan 'plaak' tinju Fayleen mendarat di wajah Kou, membuat Kou mundur beberapa langkah.
"Ou...aduh, hei, kamu ini suka sekali memukul orang yah?" tanya Kou sambil memgangi wajahnya yang kesakitan. Fayleen hanya memasang muka sewot, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kou sambil menggerutu.
"Dasar orang tidak berguna"

Dawn Wars: Twilight of the Winds -Chapter #01-

.:Dawn Wars: Twilight of the Winds :.

-Chapter #01 The Outcasts-

"The Future is what we have chosen today and the day past beyond.
A path of Fate is a path of what we had taken to put our step into..."



Alche yang diusir dari desa segera menyiapkan diri untuk meninggalkan Viura. Setelah berpamitan dengan ayah dan saudara angkatnya dia pun memulai perjalanannya menuju dunia yang selama ini hanya dia ketahui dari pelajaran sejarahnya, meski dia sendiri sering tidak mendengarkan pelajaran tersebut atau malah tidur. Alche berjalan disebuah hutan yang menyembunyikan Viura dari kota-kota para commoner, [Heater Forest], hutan itu cukup luas bagi seorang Alche, dan banyaknya hewan buas yang berkeliaran di hutan itu membuat perjalan ini berbahaya untuk seorang Alche. Karena Alche tidak pernah meninggalkan desa sejak kecil, dia tidak tahu kemana dia harus berjalan untuk dapat keluar dari hutan tersebut. Akhirnya Alche yang kelelahan memutuskan untuk beristirahat, dia beristirahat di bawah sebuah pohon besar dipinggir air terjun yang berada di tengah hutan itu. Baru saja Alche duduk, dia mendengar suara dari semak tidak jauh dari tempatnya beristirahat, karena penasaran Alche berdiri untuk mencari tahu apa yang ada di balik semak itu. Tiba-tiba dari semak itu keluar seekor Forest Lynx yang kelaparan, hutan itu memang menjadi tempat hidup bagi kawanan Forest Lynx yang buas.

Forest Lynx itu bersiap-siap untuk menerkam Alche, sementara Alche yang terkejut segera menarik belatinya. Forest lynx itu berlari menerjang Alche, Alche melompat kesamping untuk menghindari serangan Forest Lynx itu, segera, Alche memutar badannya ke arah Forest Lynx itu dan berlari sambil menyabetkan belatinya kearah Forest Lynx, namun usahanya gagal, serangannya meleset. Forest Lynx itu berhasil berkelit dan menghindar untuk kembali melancarkan serangannya kepada Alche, kali ini Alche yang kelelahan menjadi lengah, Serangan Forest Lynx berhasil mengenai lengan kanan Alche dengan cakarnya yang tajam, membuat dia menjatuhkan salah satu belatinya. Forest Lynx itu tidak puas dengan serangannya, dia berputar dan kembali menyerang Alche dan menggigit kaki Alche. Alche terjatuh, sementara Forest Lynx semakin erat menggigit kaki Alche, Alche berusaha melepaskan diri, namun Forest Lynx itu tidak ingin mangsanya kabur setelah berhasil menggigitnya. Akhirnya Alche berhasil menendang kepala Forest Lynx dan melepaskan diri, dia berusaha untuk meraih belatinya yang terjatuh tadi, saat dia berhasil meraih belatinya dia segera berbalik, disaat yang sama Forest Lynx itu menerkamnya, Alche segera menghunuskan belati di tangan kanannya dan serangannya menembus leher Forest Lynx itu. Alche berhasil membunuh Forest Lynx yang menyerangnya, namun karena dia sudah kelelahan dan kehilangan banyak darah akibat lukanya, Alche pun akhirnya jatuh dan tak sadarkan diri.

Alche perlahan membuka matanya, saat dia melihat sekelilingnya dia menyadari bahwa dia tidak lagi berada di hutan. Alche telah berbaring di ranjang di sebuah kamar kecil. Alche mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah terjadi dengannya, namun apa yang dia ingat hanyalah pertempuran dengan Forest Lynx tadi, dia tidak mengingat apa-apa tentang ruangan dimana dia berada sekarang ini. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan seorang gadis melangkah masuk sambil membawa sebaskom air dan sebuah handuk di tangannya, gadis itu tampak sedikit terkejut melihat Alche.
"Oh kamu sudah sadar yah?" gadis itu bertanya sambil mendekati Alche. Gadis itu duduk disisi Alche, dan pelan-pelan dia mulai menyeka luka-luka Alche. Alche sempat kebingungan melihat gadis itu, dia terdiam beberapa saat.
"Dimana aku? Kamu siapa?" Tanya Alche akhirnya.
"Kamu di rumahku, di tengah Heater Forest" jawab gadis itu sambil terus membersihkan luka Alche. Mereka terdiam beberapa saat setelah Gadis itu selesai membersihkan luka Alche.
"Ah, iya kamu pasti lapar, sebentar aku ambilkan makanan yah" gadis itu segera bangkit dan melangkah keluar dari kamar itu, namun sejeknak gadis itu berhenti.
"Oh ya, namaku Aurellya, Beatrix Aurellya, salam kenal yah" kata gadis itu sambil memandang Alche dan tersenyum .
"Ah...Aku...namaku Alche...senang bertemu denganmu" jawab Alche gugup, dan segera dia mengalihkan pandangannya dari Aurellya, Aurellya tertawa
“Hahaha...Kamu gugup sekali, kenapa? Aku terlalu cakep yah?” tanya Aurellya, kemudian dia berbalik.
'Brakk!!' Aurellya menabrak pintu kamar itu, kemudian dia tersenyum sambil memegangi kepalanya yang baru saja terbentur pintu dan keluar.
“Cewek yang aneh” gumam Alche dalam hati.

Tidak lama Aurellya kembali dengan makanan di tangannya, dia mendekati Alche dan menaruh makanan itu di meja. Dia membantu Alche untuk duduk dan memberikan makanan yang dia bawa kepada Alche.
"Ini, ayo makan" kata Aurellya sambil memberikan makanan itu, Alche menerimanya dan mulai makan.
"Terima kasih" kata Alche sambil makan.
Aurellya terus menatap Alche yang sedang makan dengan lahap, membuat Alche kembali gugup. Aurellya tertawa melihat tingkah Alche yang gugup saat makan.
"Setelah makan, maukah kamu menceritakan apa terjadi sampai kamu pingsan dengan luka seperti itu??" tanya Aurellya, Alche hanya menjawab dengan mengangguk pelan. Alche segera menghabiskan makanannya, setelah itu dia menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
"Aku diserang oleh seekor Forest Lynx saat pergi dari desa Viura" kata Alche.
"Eh? saat pergi dari desa Viura? diserang seekor Forest Lynx? kamu anggota clan Recca kan? kenapa bisa kalah dengan seekor Forest Lynx??" tanya Aurellya.
"Aku...aku diusir dari desa" jawab Alche pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa??" Aurellya kembali bertanya.
"Karena aku hanyalah seorang anak yang tersesat, dan bukanlah seorang Recca" Alche menjawab, dengan wajah yang terlihat sangat sedih, Aurellya terkejut.
"Maaf, seharusnya aku nggak tanya" kata Aurellya, seakan merasakan kesedihan yang dialami oleh Alche, mereka berdua kembali terdiam.

Aurellya kemudian bergegas keluar dari kamar itu dan kembali membawa semangkuk air dan kembali duduk disisi Alche. Sejenak kemudian dia mulai menggerakkan tangannya diatas air itu dan air itu bergerak mengikuti gerakan tangannya. Aurellya menggerakkan air itu melewati luka-luka Alche, membuat Alche terkejut.
"Ini...Kekuatan sang Air...Jangan-jangan kamu...Anggota clan Muse???" Alche bertanya dengan heran.
"Kenapa? Kenapa kamu menolong aku? Dan kenapa kamu ada di daerah clan Recca?" Alche kembali memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Aurellya. Aurellya terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi sedih.
"Iya, aku anggota clan Muse, aku diusir karena aku tidak percaya dengan apa yang mereka sebut dengan benang takdir, [The Threads of Fate]" jawab Aurellya pelan. Alche kini terdiam, dia menyadari bahwa keadaan Aurellya sebenarnya tidak jauh berbeda dari dirinya.
"Maaf" kata Alche.
"Nggak apa-apa, jangan dipikirkan" jawab Aurellya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Nah, tinggalah disini, paling tidak sampai luka-lukamu sembuh ,yah?" Aurellya bangkit dan memandang Alche, Alche tersenyum dan mengangguk. Alche tinggal beberapa hari di tempat itu dan Aurellya merawatnya dengan penuh perhatian.

Lima hari berlalu, dan luka-luka Alche telah pulih sepenuhnya, hari itu Alche mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalanannya. Saat Aurellya melihat Alche yang sedang bersiap-siap dia merasa sedih, karena sejak dia tinggal di tempat itu Alche adalah satu-satunya orang yang mau berbagi dengannya.
"Jadi, kamu pergi sekarang??" tanya Aurellya.
"Yah, bagaimanapun juga hutan ini masih daerah Viura, aku tidak boleh tinggal disini" jawab Alche. Aurellya terlihat sangat sedih saat Alche mengatakan hal itu. Dia mengantarkan Alche sampai di luar tempat tinggalnya, saat dia melihat Alche melangkahkan kakinya menjauh darinya ia berteriak.
"Alche...!!!" Alche berhenti dan menoleh kearah Aurellya.
"Jangan pergi..." kata Aurellya sambil menangis dan berlari menghampiri Alche.
"Aku...Aku nggak mau sendirian lagi" kata Aurellya sambil menunduk dan menangis. Alche ikut merasa sedih, tapi dia juga merasa kalau dia tetap harus pergi dari daerah Viura.
"Aku mohon...tinggalah disini" Aurellya memegangi kedua tangan Alche.
"Kenapa? Apa yang bisa diharapkan dari aku? Aku nggak punya kekuatan untuk melindungi kamu" kata Alche pelan. Aurellya menggeleng pelan.
"Aku tidak membutuhkan orang yang punya kekuatan" jawabnya.
"Aku membutuhkan seseorang yang mau berbagi denganku" Alche terdiam mendengar kata-kata Aurellya. Alche mulai bimbang, dalam hatinya dia juga ingin tetap tinggal bersama Aurellya, tetapi dia juga tidak dapat melanggar perintah untuk meninggalkan Viura.
"Aku...akan tinggal" akhirnya Alche menjawab sambil tersenyum memandangi Aurellya.

Akhirnya mereka berdua tinggal di tempat itu, megelola ladang yang mereka buat di samping tempat tinggal mereka dan Aurellya yang menjual hasil ladang mereka ke kota Commoner yang ada di luar hutan itu. Mereka seakan melupakan masa lalu mereka, segala penolakan yang mereka alami dulu, dan kesedihan-kesedihan yang selama ini membebani hidup mereka. Beberapa bulan kemudian, Aurellya pergi menjual hasil ladang mereka dan belum kembali juga hingga larut malam, membuat Alche kuatir dan menunggunya di luar tempat tinggal mereka, karena dia tidak tahu kemana harus mencari Aurellya. Alche hanya bisa menunggu Aurellya dengan gelisah hingga dia kelelahan dan tertidur di beranda. Saat membuka matanya dia telah berada di kamarnya, tak lama kemudian Aurellya datang sambil membawa makanan.
"Alche...Semalam kamu kok tidur di luar??" tanya Aurellya.
"Kemarin, seharian kamu kemana?" tanya Alche dengan wajah marah tanpa menjawab pertanyaan Aurellya.
"Aku...ahh...ada sedikit masalah" Jawab Aurellya gugup.
"Ada apa? kenapa kamu menyembunyikan masalahmu? apa aku ini benar-benar tidak bisa diandalkan? sampai kamu tidak pernah mau menceritakan masalahmu?" Alche menatap wajah Aurellya yang kini terlihat pucat. Air mata mulai terlihat di mata Aurellya, dan tanpa menjawab dia segera berlari menuju ke kamarnya, meninggalkan Alche yang kini terdiam melihat reaksi Aurellya.

Seharian itu Alche hanya terdiam di kamarnya, Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Malamnya Alche memutuskan untuk meminta maaf kepada Aurellya, dia bangkit dan berjalan menuju kamar Aurellya.
"Aurellya??" Alche mengetuk pintu kamar Aurellya, ternyata pintu itu tidak tertutup sehingga langsung terbuka saat Alche mengetuknya. Alche sedikit mengintip kedalam, dia tidak melihat Aurellya, Akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk, Aurellya tidak ada di kamarnya. Di kamar itu Alche menemukan sebuah foto, foto Aurellya dan seorang laki-laki dan di balik foto itu tertulis '[Holy Priest] Aurellya & Renz Radiant the [Destin], Children of Destiny'. Alche tidak dapat mengerti apa maksud tulisan itu, akhirnya dia keluar dari kamar, saat itu dia baru sadar, di meja yang terletak di tengah ruangan itu terdapat sepucuk surat, Alche memungut surat itu dan membacanya.

Alche...Maaf ya, aku sudah berbohong. Sebenarnya aku tidak diusir, tapi aku melarikan diri dari clanku karena aku tidak mau mengikuti jalan takdirku sebagai Holy Priest. Kemarin aku bertemu dengan anggota clanku yang lain dan mereka memintaku untuk menjalani takdirku atau akan terjadi sesuatu yang buruk pada dunia ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dunia, aku harus menjalani takdirku, Jadi aku memutuskan untuk mengikuti takdirku.
Terima kasih untuk semuanya .
Beatrix Aurellya

Alche begitu terkejut saat membaca surat itu, dia tertunduk dan merasa sangat marah, ternyata selama ini Aurellya tidak mengatakan hal yang sebenarnya, Dia merasa telah dikhianati oleh seseorang yang telah dia percayai. Alche berjalan ke kamarnya dan membaringkan dirinya, berpikir tentang apa yang telah dia alami selama ini, dan merasa putus asa, sampai akhirnya dia pun tertidur. Keesokan harinya Alche bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu, meninggalkan semua kenangan yang telah dia alami selama ini dan memlai perjalanan baru. Dia merasa bahwa apa yang dia alami adalah akibat dari keputusannya untuk melanggar perintah pimpinan desa Viura untuk meninggalkan Viura. Alche berjalan menyusuri hutan dengan lesu. Beberapa jam kemudian Alche akhirnya sampai di pinggir hutan, dan dia tiba di sebuah kota Commoner,[Althehyde] kota Commoner pertama yang dikunjunginya. Alche segera mencari sebuah inn untuk dia tinggali malam ini, dia sudah terlalu lelah karena perjalan yang telah dia tempuh, tanpa sadar dia telah diawasi sejak dia memasuki kota.

Alche menemukan sebuah inn di salah satu pojok kota, dan dia segera memesan kamar dengan uang yang dia dapat dari hasil penjualan hasil ladangnya bersama Aurellya. Sementara itu dua orang misterius, seorang laki-laki tinggi dengan rambut yang menutupi sebagian matanya dan seorang gadis berambut hitam pendek, terus mengawasinya dari kejauhan.
"Apa kamu yakin dia orangnya?" tanya sang gadis kepada laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
"Hmm...Dia orangnya, aku yakin Yun" jawab laki-laki itu. Sang gadis, Yun, kembali mengawasi gerak gerik Alche.
"Kou...ayo kita bergerak" kata Yun sambil tersenyum, Kou mengangguk pelan. Mereka berdua mendekati Alche yang sedang minum di bar inn tersebut, Kou duduk di sebelah Alche yang termenung dan memesan minuman.
"Hai..." Kou menyapa Alche, Alche menoleh sejenak ke arah Kou dan kembali meminun minumannya.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Kou, Alche tetap diam. Kou mengalihkan pandangannya dari Alche.
"Alche...Valin Alche Fabel" kata Kou sambil tersenyum, membuat Alche terkejut.
"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Alche sambil memandang curiga ke arah Kou.
"Kami tahu semuanya tentang kamu, Alche" jawab Kou sambil tetap tersenyum dan memandangi minumannya.
"Kami? siapa kalian? kamu belum jawab pertanyaanku, darimana kamu tahu namaku?" tanya Alche, dia berdiri, mulai emosi. Kou memainkan minumannya dan menutup matanya.
"Kami, [Apostle of Destiny] selalu mengikuti orang-orang yang dipilih oleh Arua sang Cahaya lewat Threads of Fate, dan aku, aku tahu siapa kamu karena aku mengenal siapa orang tua kandungmu" jawab Kou tanpa memandang Alche.
"Apostle of Destiny? Threads of Fate? Apa itu? Kamu kenal siapa orang tuaku? Siapa? Siapa orang tuaku?" Tanya Alche dengan setengah berteriak dan mendekati Kou.
"Aku tidak bisa menjelaskan disni, pergilah menuju rumah besar di ujung kota, aku akan menunggumu" jawab Kou sambil membayar minumannya dan beranjak pergi. Alche terdiam, mengepalkan kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah Kou.
"Orang tuamu, adalah seorang Gale Master" kata Kou sebelum dia menghilang di tengah keramaian.

Alche segera berlari ke kamarnya, mengambil belatinya dan berlari keluar dari inn menuju tempat yang ditunjuk oleh Kou. Begitu Alche tiba di rumah itu, dia disambut oleh Yun.
"Masuklah, Kou menunggumu" kata Yun. Yun mengantarkan Alche menuju ke ruangan yang terletak di lantai dua rumah itu, di dalam ruangan itu Kou terlihat sedang berdiri mengawasi sesuatu di samping jendela. Menyadari Alche sudah berada di belakangnya, Kou berbalik dan memandang Alche.
"Maaf aku belum bilang siapa aku, aku Kou Yukishiro dan dia adalah partnerku, Yun Adelaine Applegate" kata Kou memperkenalkan dirinya dan Yun. Kou menutup tirai jendela dan berjalan menuju salah satu ujung ruangan, Yun mengikutinya.
"Aku ingin penjelasan" kata Alche. Kou tersenyum, dia menyandarkan dirinya ke dinding.
"Apostle of Destiny adalah orang-orang yang mengikuti jalan takdir, Threads of Fate, yang telah ditentukan oleh Arua sang Cahaya" Jawab Kou. Alche yang merasa belum puas dan berjalan mendekati Kou.
"Aku tidak mengerti apa itu Apostle of Destiny atau apa itu Threads of Fate, yang aku mau tahu adalah kebenaran tentang orang tuaku" kata Alche. Kou sejenak menutup matanya, dan kemudian memandang Alche.
"Tiga belas tahun yang lalu, clan Api Recca menyerang desa clan Angin, [Pandemona]. Banyak korban yang jatuh dari pihak clan Angin karena clan Api melakukan serangan itu dibantu oleh mata-mata dari clan Api, Hahn, Arresh Hahn Redcliff. Salah satu korbannya adalah ayahmu, Valin Art Fabel, dan ibumu Arnette Syllfalen"
"Nggak...Nggak mungkin ayah yang melakukannya..." Alche terlihat sangat terpukul, dia mundur beberapa langkah, belum dapat mempercayai apa yang dia dengar dari Kou.

Kou mendekati Alche memegangi pundak Alche dan berusaha untuk membuat Alche tenang. Alche jatuh terduduk karena kata-kata Kou tadi sangatlah sulit untuk dapat dia percayai, bahwa ayah angkatnya, yang selama ini telah menyayanginya seperti anaknya sendiri dan dia sayangi seperti ayahnya sendiri adalah orang yang menyebabkan kedua orang tua kandungnya terbunuh.
"Kita harus biarkan dia tenang dulu" kata Yun sambil mendekati Kou dan Alche. Kou mengangguk dan membantu Alche untuk duduk, kemudian mereka berdua kembali ke sisi jendela dan melanjutkan mengawasi kondisi di sekitar rumah itu. Sementara itu Alche masih terlihat shock karena kata-kata Kou, nafasnya tidak teratur dan dia mulai berkeringat dingin. Yun menoleh dan melihat kondisi Alche.
"Kou...Lihat dia..." kata-katanya terpotong saat Kou memberi isyarat kepada Yun untuk diam.
"[Deshtal]..." kata Kou pelan. Raut wajah Alche berubah, dia terlihat sangat marah, dan kini tatapan matanya menjadi sangat dingin, seperti mata seorang pembunuh. Perlahan Alche bangkit, nafasnya semakin tidak beraturan dan disekitar tubuhnya memancarkan aura hijau, dan suasana menjadi dingin. Tirai jendela bergerak oleh angin, walaupun ruangan itu sama sekali tertutup, angin itu berasal dari tubuh Alche. Kini Alche sama sekali berbeda dengan Alche yang tadi memasuki ruangan itu. Kou dan Yun terdiam tidak bergerak menyaksikan perubahan yang terjadi pada Alche, Alche mengepalkan tangannya, dan tiupan angin yang berasal dari tubuhnya semakin kencang. Ruangan itu dipenuhi dengan tiupan angin, mengakibatkan benda-benda yang ada di ruangan itu berterbangan, kaca jendela pecah karena tidak dapat menahan tiupan angin yang makin lama makin kencang itu, kini Alche berdiri berhadapan dengan Kou dan Yun, mereka diam saling berhadapan selama beberapa waktu.

Alche mengangkat tangan kanannya kedepan dan tiupan angin bergerak ke satu titik membentuk sebuah tombak angin ke arah dimana Alche mengarahkan tangannya, ke arah Kou dan Yun.
"Wind Shield!!" Kou meyilangkan tangannya di dadanya dan angin bertiup di depannya membentuk sebuah perisai. Tombak angin Alche meluncur dan menusuk perisai angin yang dibuat oleh Kou, Kou berusaha untuk bertahan, namun energi tombak angin itu terlalu kuat, Kou terdorong mundur dan perisai angin itu mulai melemah. Yun segera bertindak, dia mengarahkan tangan kirinya ke arah perisai angin Kou.
"Frozen Barrier!!" perlahan perisai angin Kou diselimuti oleh es dan membentuk perisai es yang besar. Tombak angin itu terus mendorong perisai es dan menekan Kou dan Yun semakin merapat ke dinding, Alche maju beberapa langkah, Kou dan Yun semakin terdesak, dinding di belakang mereka tidak lagi dapat menahan tekanan yang dihasilkan oleh kekuatan angin Alche, ditambah dengan Kou dan Yun yang terjepit diantaran tembok dan perisai es, dinding itu akhirnya hancur. Kou dan Yun terjatuh saat dinding itu hancur, begitu juga perisai es itu tidak dapat lagi menahan serangan tombak angin Alche, perisai itu pecah dan tombak angin itu meluncur menembus diding berikutnya, membuat sebuah lubang ke luar rumah itu. Kou dan Yun segera bangkit dan mengambil langkah mundur, menyiapkan strategi untuk menghadapi lawan yang mungkin tidak dapat mereka tandingi.

Orang-orang yang tinggal di dekat rumah itu mulai berkumpul di depan rumah untuk melihat apa yang terjadi. Membuat segalanya semakin kacau, karena kali ini Kou dan Yun juga harus melindungi orang-orang itu. Alche kembali melangkah maju, dan tiupan angin berubah menjadi ratusan anak panah yang kemudian melesat ke berbagai arah.
"Ice Wall!!" Yun menciptakan sebuah tembok es untuk melindungi dirnya dan Kou. Kou sadar, banyak yang akan terluka dan menjadi korban jika dia hanya tinggal diam, dia segera berlari ke arah kumpulan orang-orang itu dan mencoba menciptakan perisai untuk melindungi mereka.
"Airscape!!" Kou mengarahkan kedua tangannya ke arah orang-orang itu dan mereka di selimuti oleh semacam pelindung yang terbuat dari angin, tapi Kou tidak sempat menghindar, beberapa anak panah angin itu melukainya, Kou terjatuh dari lantai dua, tanpa ada persiapan apapun, dia jatuh terhempas ke tanah dan kehilangan kesadarannya. Yun, tetap berusaha bertahan untuk melindungi dirinya yang kini semakin terjebak dalam hujan panah angin ciptaan Alche. Tembok es yang menjadi satu-satunya pelindungnya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi, dan kini dia sendirian yang harus menghadapi Alche yang sedang dalam kondisi marah, ditambah dengan aura Alche yang semakin menekan, Yun sekarang terpojok dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi.

Alche tetap diam di tempatnya berdiri, tetapi angin yang bertiup di sekitarnya semakin kencang, kini panah-panah angin itu telah menghilang dan berubah menjadi sebuah badai yang sangat kencang. Rumah itu hancur berantakan, badai itu mengangkat apapun yang ada di sektarnya, termasuk Kou yang tidak sadarkan diri dan Yun yang tidak berdaya, sementara para penduduk yang ketakutan masih terlindungi oleh pelindung angin yang diciptakan oleh Kou. Badai itu terlihat bahkan sampai di Viura, Hahn dan Fennix pun dapat melihatnya.
"Tidak...Badai itu...." kata Hahn pelan. Fennix berpaling kepada Hahn dan bertanya.
"Apa? Apa yang terjadi?" Hahn hanya diam menundukkan kepalanya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang Hahn" kata pemimpin desa Viura yang saat itu berdiri di belakang Hahn dan Fennix. Fennix semakin bingung dan kembali melihat kearah badai angin itu. Hahn berdiri terpaku dengan apa yang dilihatnya, dari raut wajahnya terlihat ketakukan dan kekuatirannya.

Tubuh Kou dan Yun jatuh ke tanah dengan keras, Yun kembali bangkit dengan tenaganya yang tersisa. Melihat keadaan sekelilingnya yang telah hancur, Yun akhirnya memilih untuk berusaha menyerang daripada terus bertahan seperti yang telah dia dan Kou lakukan sebelumnya. Yun meloncat ke atas reruntuhan rumah, berusaha mendekati Alche, namun badai angin itu terlalu kuat untuk dia mendekat. Tetapi Yun tidak menyerah.
"Surging Wave!!" Yun megarahkan kedua tangannya kearah badai angin itu, dan dari tangannya muncul gelombang air dan melesat ke arah badai itu, berusaha untuk menembusnya. Serangan itu berhasil membuka sedikit celah, Yun segera berlari dan masuk ke dalam badai melewati celah itu. Didalam badai itu teryata jauh lebih tenang daripada apa yang dia bayangkan, terlalu tenang bahkan. Kini Yun berdiri tepat di depan Alche, tatapan mata Alche yang kosong, seakan-akan ada sesuatu yang merasukinya membuat Yun merasa ngeri. Tangannya gemetar, kehilangan kepercayaan dirinya, Yun tidak dapat memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan lagi.

Kou baru saja tersadar dari pingsannya, di samping nya berdiri seorang cewek yang ternyata telah mengobati sedikit lukanya. Kou mencoba bangkit berdiri, tapi cewek itu melarangnya.
"Diam saja disini, kekuatan ini terlalu besar untuk seseorang yang terluka sepertimu" kata cewek itu yang ternyata adalah Fayleen.
"Ughh...Kekuatan Deshtal...Ternyata jauh lebih besar daripada yang kuduga" kata Kou.
Fayleen melihat kearah badai itu, mencoba untuk menganalisa keadaan dan memikirkan langkah apa yang dapat dia ambil. Dia menunduk dan membetulkan posisi kaca matanya.
"Kalau kondisinya seperti ini, kita tidak bisa melakukan apa-apa, jalan terbaik adalah mundur" kata Fayleen.
"Tapi Yun...dia masih disana.." kata Kou sambil melihat kearah badai.
"Apa kamu juga mau mati? bagaimana dengan nasib penduduk itu??" tanya Fayleen sambil memandang wajah Kou dan menunjuk kearah para penduduk yang masih terlindungi oleh perisai angin ciptaan Kou. Kou terdiam, dia tersadar, dalam keadaan seperti ini memang satu-satunya pilihan terbaik adalah mundur, akhirnya dia mengangguk pelan.
"Baiklah, ayo kita selamatkan para penduduk itu dulu" kata Kou.

Fayleen membantu Kou untuk berdiri, membawanya ketempat yang agak jauh dan mendudukkannya disana. Kemudian dia beranjak pergi untuk menolong penduduk kota itu.
"Tunggulah disini, kalau kamu ikut hanya akan menjadi beban" kata Fayleen sebelum meninggalkan Kou. Fayleen mengatur jalan keluar untuk para penduduk itu sehingga mereka dapat keluar dari kota dengan selamat. Fayleen, Kou dan para penduduk segera menyingkir menuju hutan, badai itu menjadi semakin besar dan akhirnya menghancurkan seluruh kota Althehyde.
"Jadi ini, kekuatan sebenarnya dari Deshtal" kata Fayleen, Kou hanya mengangguk pelan,
"Aku juga, baru pertama kali ini melihatnya" kata Kou, dia maju beberapa langkah sambil memegangi luka di perutnya.
"Destin, bagaimana dengan Destin? Aku belum melihat kekuatan Destin yang sebenarnya" tanya Fayleen.
Selama ini Fayleen mempelajari sejarah tentang Dawn Wars, ada satu hal yang membuat dia penasaran yaitu The Children of Destiny, anak-anak yang terpilih untuk memulai dan menyelesaikan Dawn Wars, yaitu Destin, Deshtal dan Holy Priest. Dan hari itu, dia melihat sendiri kekuatan dari salah satu dari Children of Destiny itu, Deshtal sang penghancur yang dengan mudahnya meratakan sebuah kota.

Seribu tahun yang lalu, setelah Tower of Babel hancur, manusia merasakan adanya perubahan dalam diri mereka, salah satunya adalah kekuatan yang disebut dengan [Graciel Runich], Anugerah kekuatan, yang akhirnya disebut sebagai Rune. Mereka semakin merasa bahwa diri mereka saat itu telah berhasil menyamai kelima dewa, sehingga mereka menjadi sombong dan mulai menganggap rendah satu sama lain. Salah satu dari para manusia itu memiliki kekuatan yang sangat kuat, dan dia merasa dialah yang berhak disamakan dengan para dewa, untuk tujuannya itu dia membunuh orang-orang yang berusaha menghalangi jalannya, dialah yang disebut sebagai Deshtal.Saat itulah para manusia mulai saling berperang dan membuat keadaan Almadia menjadi medan pertempuran raksasa, diantara mereka beberapa orang memilih untuk menyingkir dan tidak ikut berperang. Orang-orang yang menyingkir ini kemudian bersatu dan membentuk suatu grup untuk membantu merawat mereka yang terluka karena perang, mereka menamai diri mereka sebagai [The Priests].
Salah satu dari para Priest ini ternyata memiliki kekuatan untuk menyegel kekuatan Rune. Dialah yang kemudian disebut sebagai Holy Priest. Holy Priest menyadari kekuatannya dan dia merasa bahwa dengan kekuatannya dia dapat menghentikan perang ini, namun dia tidak tahu bagaimana caranya. Saat itulah Arua muncul dan memberikan petunjuk pada sang Holy Priest. Saat Almadia di bentuk, kelima dewa mengorbankan sebagian kekuatan mereka, kekuatan yang dikorbankan itu menjadi sumber energi dari planet ini. Setiap kekuatan itu berada di di lima titik di planet Almadia ini, dalam suatu segel yang disebut dengan nama [Cyrrfall Egneihm], yang berarti Seal Circle (Lingkaran segel). Karena perbuatan manusia membangun Tower of Babel dan ingin mencapai Edenia, Arua memberikan ijin untuk membuka segel itu dan kepada keempat dewa untuk menganugerahkan manusia kekuatan, sehingga para manusia itu tidak lagi bersatu dan saling berperang, sehingga keinginan mereka untuk mencapai Edenia tidak akan tercapai.
Arua kemudian menunjukkan posisi Cyrrfall Egneihm atau yang lebih dikenal dengan sebutan Circle itu kepada sang Holy Priest dan memeritahukan jalan untuk menghentikan perang serta konsekuensi untuk melakukannya. Setelah itu Arua segera kembali ke Edenia tanpa memberikan kesempatan kepada sang High Priest itu untuk bertanya. Sang Holy Priest kemudian menceritakan apa yang telah terjadi kepada para Priest lain, Holy Priest itu memutuskan untuk melakukan jalan yang ditunjukkan oleh Arua, yaitu menyegel empat dari kelima segel sendirian, yaitu segel dari keempat elemen. Namun para Priest tidak menyetujui rencana itu, karena ternyata untuk menyegel ke empat circle itu sang Holy Priest harus memberikan nyawanya.
Sang Holy Priest tetap memaksa untuk pergi, dia benar-benar menginginkan perang itu berakhir. Para Priest pun menyerah dan menyetujui rencana sang Holy Priest untuk menyegel keempat Circle. Saat sang Holy Priest berangkat, salah satu dari para Priest itu mengikutinya dan berusaha untuk melindunginya, namun pada akhirnya dia nyaris terbunuh saat melindungi sang Holy Priest yang sedang diserang oleh orang-orang yang sedang berperang. Arua melihat apa yang dilakukan oleh Priest itu dan dia merasa tersentuh, hingga akhirnya dia memberikan kekuatan kehidupan kepada orang itu, orang itulah yang kemudian disebut sebagai Destin.
Dalam perjalanannya, sang Holy Priest bersama sang Destin bertemu dengan sang Deshtal dan pertempuran tidak dapat dihindari. Sang Destin akhirnya dapat mengalahkan dan membunuh sang Deshtal, Destin dan sang Holy Priestpun akhirnya dapat menyelesaikan tugas untuk menyegel keempat Circle dengan mengorbankan nyawa sang Holy Priest. Saat itu hanya tiga perempat kekuatan Circle yang tersegel sehingga manusia masih dapat menggunakan kekuatan Rune, namun generasi berikutnya penerima kekuatan Rune semakin berkurang dan mereka yang menerima kekuatan itu akhirnya mulai menyadari kesalahan mereka dan mengasingkan diri, dari situlah awal mula terbentuknya desa-desa tersembuyi keempat Clan.

Kou berhenti bercerita, memandang dengan sedih kearah kota Althehyde yang hancur, sementara Fayleen terus memandangi Kou karena terkesan dengan ceritanya. Selama ini Fayleen hanya mengetahui sejarah tentang Dawn Wars secara garis besarnya saja, namun Kou mengetahui cerita sejarah itu dengan lebih mendetail.
"Jadi begitu ceritanya..." kata Fayleen sambil mengalihkan pandangannya ke arah kota Althehyde.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Kou sambil berbalik ke arah Fayleen, Fayleen hanya menghela nafas panjang dan menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu...mungkin lebih baik kita menunggu dulu disini sampai keadaannya lebih tenang" jawab Fayleen. Mereka memutuskan untuk bermalam di hutan itu sambil terus mengawasi reruntuhan kota Althehyde,

Keesokan harinya Kou dan Fayleen pergi ke reruntuhan kota Althehyde untuk melihat keadaaan, Althehyde telah benar-benar rata dengan tanah, tidak ada jejak Alche maupun Yun. Kou berusaha mencari Yun ke sekeliling sisa puing-puing kota itu, namun usahanya sia-sia, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di kota itu. Fayleen mendekati Kou yang putus asa karena tidak dapat menemukan Yun.
"Kou..." kata Yun sambil memegang pundak Kou.
"Yun, dia memilih untuk ikut bersamaku karena dia percaya padaku..." Kou mengangkat kepalanya dan memandang sekeliling.
"Tapi aku tidak cukup kuat, bahkan untuk melindungi diriku sendiri" lanjut Kou yang mengarahkan pandangannya kearah rumah dimana mereka bertarung sehari sebelumnya.
"Hmm...Kou, masalahnya bukan apakah kamu cukup kuat atau apakah kamu tidak cukup kuat, tapi lihatlah lawanmu" kata Fayleen. Kou hanya diam mendengar kata-kata Fayleen, dia sadar bahwa yang dapat mengalahkan Deshtal hanyalah Destin. Kou yang selama ini terlalu percaya diri dengan kekuatannya kini hanya bisa terdiam dan meyesali keputusannya.
"Kou, kita masing-masing telah memilih jalan mana yang akan kita ambil, apa yang terjadi hari ini merupakan hasil dari keputusan apa yang telah kita ambil hari-hari sebelumnya, yang dapat kita lakukan bukanlah menyesali apa yang telah terjadi, tapi kita harus menjadikan kesalahan kita itu sebagai pelajaran" kata Fayleen.

Kou dan Fayleen membantu para penduduk untuk membangun kembali Althehyde sebelum mereka berangkat untuk mencari Alche dan Yun. Mereka menghabiskan waktu seminggu untuk membantu pembangunan kembali Althehyde, kemudian mereka berangkat menuju kota terdekat untuk mngumpulkan informasi. Selama perjalanan itu Kou tidak banyak bicara, dia hanya mendengarkan Fayleen yang berbicara panjang lebar tentang sifat Alche yang pemalas dan tidak berbakat, Fayleen awalnya tidak percaya bahwa Alche adalah Deshtal karena kebodohannya.

Mereka akhirnya tiba di sebuah desa yang tidak jauh dari Althehyde, [Wintherland]. Wintherland atau Winderland adalah sebuah desa nelayan dimana para penduduknya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, desa itu adalah pemasok hasil laut terbesar di dataran [Estecia]. Desa ini sebenarnya terlalu besar untuk sebutan desa, namun begitulah orang-orang menyebutnya. Disana Kou dan Fayleen berusaha mencari informasi tentang Alche dengan bertanya kepada para penduduk, namun tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang Alche, mereka hanya mengetahui tentang berita kehancuran kota Althehyde dan rumor akan terjadinya Dawn Wars kedua. Kou dan Fayleen akhirnya memutuskan untuk beristirahat disebuah inn di desa itu.
"Kalau kamu jadi Alche, kemana kamu akan pergi setelah menghancurkan sebuah kota seperti itu?" tanya Kou saat mereka beristirahat di bar inn tersebut.
"Mana aku tahu? Alche sangat tertutup, bahkan kepada Ayah angkatnya, Hahn" jawab Fayleen, Kou menghela nafas saat mendengar jawaban Fayleen, 'tidak ada harapan' pikirnya.
Mereka berdua kembali mencoba menebak kemana Alche pergi, Sesaat kemudian seorang gadis yang berpakaian seperti seorang knight menghampiri mereka, Kou sedikit terkejut saat melihat gadis itu.
"Apakah kalian mencari Alche?" tanya gadis itu yang kemudian duduk disamping Fayleen.
"Kamu tahu kira-kira dimana dia sekarang?" tanya Fayleen sementara Kou yang masih terlihat sedikit terkejut hanya diam saja.
"Mungkin aku tahu" jawab gadis itu.
"Dimana? dimana Alche sekarang?" Fayleen mendesak gadis itu dengan pertanyaannya.
"Didalam Heather Forest dekat Heater Spring ada sebuah gubuk tempat Alche dulu pernah tinggal saat meninggalkan Viura" jawab gadis itu.
"Kamu yakin?" Fayleen kembali bertanya sambil memadangi gadis itu.
"Aku cuma menebak, kemungkinan besar dia kembali kesana, karena tempat itu adalah tempat yang berarti bagi Alche" jawab gadis itu tenang.
"Dari mana kamu tahu semua ini?" tanya Fayleen sambil membetulkan posisi kaca matanya.
"Dari seorang anggota clan Muse lain yang bernama Aurellya" gadis itu menjawab.
"Aurellya??" tanya Fayleen heran.
"Orang yang sempat tinggal bersama Alche setelah dia meniggalkan Viura" kata gadis itu. Fayleen diam beberapa saat sambil berpikir, selama ini Alche tidak pernah terlihat dekat dengan seorang gadis manapun, sifat Alche yang sangat tertutup membuat para gadis di Viura enggan mendekati atau bahkan berbicara dengannya. Fayleen sedikit terkejut juga saat mendengar Alche tinggal bersama seorang gadis.
"Gadis seperti apa yang mau tinggal dengan si bodoh itu?" kata Fayleen dalam hati.
"Hei, siapa namamu?" tiba-tiba Kou bertanya kepada gadis itu, membuyarkan lamunan Fayleen.
"Cheylla, Cheylla Emerald" jawab gadis itu singkat. Kou kembali terlihat terkejut saat mendengar jawaban gadis itu.
"Kenapa Kou? tanya Fayleen yang penasaran dengan reaksi Kou.
"Umm...tidak, tidak apa-apa kok" jawab Kou, tapi saat Fayleen melihat raut wajah Kou dia merasa bahwa ada yang disembunyikan oleh Kou. Kou kemudian menyandarkan diri dikursinya, dari wajahnya terlihat bahwa ada sesuatu yang dia pikirkan, Fayleen mengetahui hal itu, namun dia lebih memilih untuk diam.

Mereka bertiga terdiam beberapa saat, Cheylla memandangi wajah Kou dan Fayleen secara bergantian dengan heran. Kemudian dia bangkit berdiri.
"Apa kalian akan diam saja dan menunggu disini?" tanya Cheylla, Fayleen menoleh kearah Cheylla.
"Tidak, kami sedang memikirkan cara untuk menemukan Alche secara efisien" jawab Fayleen.
"Secara efisien?" tanya Cheylla.
"Anggap saja Alche ada di Heather Forest, tidak ada masalah, tapi, bagaimana kalau dia tidak ada disana? kita hanya akan membuang waktu" jawab Fayleen.
"Hmm..betul juga" jawab Cheylla, kemudian dia berpikir sebentar.
"Bagaimana kalau kita berpencar? kalian mencari disekitar sini, sementara aku dan [Order of Sylmeria] akan mencari disekitar Heater Forest?" kata Cheylla mencoba untukkmemberikan solusi. Fayleen mengangguk menyetujui rencana Cheyla.
"Kalau begitu aku akan berangkat sekarang, kita ketemu lagi disini tiga hari lagi" kata Cheylla.
"Oke..." belum selesai Fayleen menjawab Kou segera memotong kata-katanya.
"Cheylla, apa kamu punya saudara?" Cheylla terkejut saat Kou menanyakan hal itu.
"Saudara?" tanya Ceylla.
"Yup, saudara" jawab Kou singkat.
"Tidak, aku tidak punya saudara, aku anak tunggal keluarga Emerald, kenapa?" kata Cheylla heran.
"Tidak apa-apa, aku cuma merasa kalau aku pernah melihat seseorang yang mirip denganmu" jawab Kou.
"Oh, mungkin hanya kebetulan" kata Cheylla tersenyum.
"Yah, mungkin saja" kata Kou.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, kalian hati-hati yah" Cheylla segera beranjak pergi meninggalkan Kou dan Fayleen. Kou juga segera bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

"Tunggu, Kou..." Fayleen mengejar Kou yang telah berdiri di depan kamarnya.
"Fayleen, ada apa?" tanya Kou sambil memandang Fayleen.
"Harusnya aku yang tanya ada apa" kata Fayleen kesal, tapi Kou tidak mengerti maksud Fayleen, dan memandang Fayleen dangan wajah penuh tanda tanya.
"Beeegooooo....Masa kamu nggak ngerti maksudku?" tanya Fayleen, Kou hanya menggelengkan kepalanya.
'Plaaakkkk' pukulan Fayleen mendarat tepat di wajah Kou, membuat Kou mundur beberapa langkah.
"Heiiiii...kenapa kamu ini? tiba-tiba pukul wajah orang sembarangan??" kata Kou sambil marah.
"Kamu, nggak ada bedanya sama Alche, selalu mau menanggung semua masalahmu sendirian" kata Fayleen sambil melangkah pergi. Kou terdiam, menundukkan kepalanya sambil memegangi wajahnya yang masih terasa sakit akibat pukulan Fayleen.
"Kenapa dia?" katanya dalam hati, menggelengkan kepalanya dan beranjak masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

'Brakkkk!!' Fayleen membanting pintu kamarnya dan melangkah dengan kesal menuju tempat tidurnya. Kemudian dia duduk sambil menggerutu.
"Kenapa banyak orang yang merasa masalahnya adalah masalahnya sendiri? Mereka selalu merasa mampu untuk menyelesaikannya sendiri, tapi tidak bisa melakukan apa-apa, dasar bodoh!!" Fayleen lalu membaringkan diri dan tidur.
Sementara Kou, dikamarnya diam sambil memikirkan banyak hal di kepalanya. Sepertinya dia banyak memikirkan Cheylla, karena gadis itu mirip dengan seseorang yang dikenalnya, seseorang yang ingin dia lindungi, seorang gadis kecil, yang dia sayangi. yang menjadi alasan dia diusir dari desanya dan menjadi seorang outcast sebelum akhirnya bergabung dengan Apostle of Destiny...

-End of Chapter #01-

Dawn Wars­­: Twilight of the Winds -Prologue-

.:Dawn Wars­­: Twilight of the Winds :.


-Prologue: A Boy of no Talent-


Dunia [Almadia] diciptakan oleh lima Dewa, empat dari kelima Dewa tersebut menciptakan planet Almadia dengan kekuatan elemen yang mereka kuasai. Sylmeria sang Air, Agito sang Api, Rudra sang Angin dan Clement sang Tanah. Mereka bersatu untuk membentuk dan menciptakan planet Almadia, sedangkan satu Dewa lagi yaitu Arua sang Cahaya adalah Dewa yang menciptakan segala bentuk kehidupan di Almadia.
Setelah mereka menciptakan Almadia dan segala kehidupan yang ada di dalamnya, mereka kembali ke Edenia, dunia dimana mereka berasal. Selama ratusan tahun mereka hanya berperan sebagai pengawas segala kehidupan dan keseimbangan yang ada di Almadia. Di saat-saat itu kedamaian menyelimuti dunia Almadia ini, dan penduduk Almadia menghormati kelima Dewa tersebut. Hingga suatu saat para penduduk Almadia bersatu dan mendirikan [Tower of Babel] dengan tujuan untuk bisa menyamai kelima Dewa tersebut. Hal itu mebuat empat Dewa yang membentuk Almadia menjadi berseteru dan saling menyalahkan, sehingga membuat Arua sang Cahaya menjadi marah dan menghancurkan menara tersebut dan memecah belah penduduk Almadia menjadi empat bagian. Keempat Dewa tidak lagi dapat mempercayai Dewa yang lain sehingga Arua memberikan otoritas kepada keempat Dewa untuk menanugerahkan kekuatan mereka kepada penduduk Almadia.
Penduduk Almadia yang terpecah belah dan memiliki Kekuatan Anugerah, [Rune] akhirnya saling berperang, perang itu dikenal dengan nama [Dawn Wars], Perang Fajar/Perang Permulaan. Segalanya menjadi berubah, Almadia kini menjadi dunia yang penuh terror dan kekejaman. Melihat keadaan yang seperti ini Arua sang Cahaya akhirnya meminta keempat Dewa untuk menghentikan perang dan membatasi pemberian Rune kepada orang-orang tertentu. Sejak saat itu penerima Rune akhirnya semakin berkurang dan akhirnya hanya tersisa sedikit, mereka yang memiliki kekuatan Rune akhirnya menjauhkan diri dari penduduk yang tidak memiliki kekuatan. Mereka membangun desa-desa yang tersembunyi dan membentuk clan menurut kekuatan Rune mereka. Itulah awal mula dari terbentuknya empat clan yaitu [Muse], mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Sylmeria sang Air. [Recca], yaitu mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Agito sang api. [Gale], yaitu mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Rudra sang Angin. Dan [Gaea] yang menerima Kekuatan Anugerah dari Clement sang Tanah.
Desa yang dibangun oleh para penerima Kekuatan Anugerah ini dibangun di suatu tempat dekat dengan segel yang telah di tempatkan oleh masing-masing Dewa pemberi Kekuatan Anugerah,yaitu [Circle]. Sementara mereka yang tidak menerima Kekuatan Anugerah akhirnya kembali menjalani kehidupan normal sehingga Almadia perlahan kembali menjadi dunia yang damai, meskipun dalam bayang-bayang keempat clan ini masih terus saling bermusuhan...

'Plakkk....!!!' sebuah kapur dilemparkan oleh Fayleen, Alche yang tertidur segera terbangun karena terkejut saat kapur itu menghantam kepalanya.
"Alche !!! lagi-lagi kamu tidur waktu pelajaranku, sekarang keluar dan berdiri di luar kelas !!!" Fayleen berteriak dengan marah
"Ya Bu Fayleen..." jawab Alche sambil bangkit dan berjalan keluar kelas dengan lesu.
"Hoaaaaammmm...." Alche menguap saat berjalan di depan Fayleen, dan Fayleen sudah siap dengan sebuah penghapus papan di tangannya. 'Plaakkkk...' penghapus itu melayang dan menghantam kepala Alche, membuat Alche memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan.
"Menguap sekali lagi kubunuh kau !!!" kata Fayleen sambil menatap tajam ke arah Alche, Alche segera berlari keluar kelas karena ketakutan, membuat anak-anak di kelasnya tertawa. Alche memang dikenal sebagai anak yang pemalas di sekolahnya, dia seringkali tidur saat pelajaran. Meskipun secara fisik dia sangat keren dengan rambut pirang keputihan, dia sangat menarik banyak perhatian gadis di sekolahnya, Tapi karena sifat Alche yang dingin dan cuek membuat mereka enggan mendekatinya.

Bel tanda berakhirnya waktu sekolah berbunyi, seperti biasanya Alche pulang bersama saudaranya, Fennix yang juga satu kelas dengannya.
"Lagi-lagi tidur waktu pelajaran Alche???" kata Fennix sambil tertawa. Fennix selalu menggoda saudaranya yang memang malas dan tidak punya bakat itu.
"Pelajaran sejarah yang membosankan" jawab Alche, masih dengan wajah murungnya. Berbeda denga Alche, Fennix adalah seorang anak yang berbakat dan pandai, dia bahkan sudah menguasai Rune tingkat B, tingkatan yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Satu-satunya kekurangan Fennix dari Alche adalah fisiknya yang tidak begitu menarik perhatian gadis-gadis seperti Alche, kadang itu membuat Fennix sedikit iri dangan Alche. Mereka berdua berjalan menuju rumah mereka yang terletak di ujung desa, [Village of Viura]. Viura adalah desa tersembunyi yang didiami oleh orang-orang yang menerima Kekuatan Anugerah dari Agito sang Api. Desa itu cukup kecil, hanya ada beberapa rumah penduduk dengan sebuah rumah besar di tengah desa, tempat pemimpin desa, sebuah sekolah dan sebuah altar yang cukup besar, dimana Circle of Agito berada, altar itu juga mendai semacam arena untuk berlatihpenduduk dan upacara-upacara mereka. Akhirnya mereka tiba di rumah dan disambut oleh ayah mereka,Hahn, seperti hari-hari biasanya.
"Bagaimana sekolah hari ini?" tanya Hahn sambil tersenyum.
"Membosankan" jawab Alche lesu.
"Menyenangkan" jawab Fennix sambil tersenyum dan melirik ke arah Alche.
"Jangan lupa tiga hari lagi kalian akan mengikuti tes Rune di [Circle of Agito] kalau kalian gagal, kalian akan diusir dari desa" Kata Hahn saat mereka berjalan memasuki rumah. Dalam clan Recca ada suatu upacara yang diadakan saat seorang anak mencapai umur tujuh belas tahun, yaitu tes Rune. Dalam upacara tersebut keahlian seseorang dalam mengontrol Rune akan diuji dan bagi mereka yang gagal akan diusir dari desa, bergabung dengan orang-orang yang tidak menerima Kekuatan Anugerah, [Commoner]. Orang-orang yang terusir itu dikenal dengan nama [Outcast].

Waktu ujian tiba, ada tiga orang anak lain yang ikut serta dalam upacara itu selain Alche dan Fennix. Ujiannya cukup sederhana, mereka diminta untuk mengalahkan seekor [Forest Lynx ] dengan menggunakan Rune yang mereka kuasai, yaitu Fire Rune. Bukan hal yang sulit memang, rata-rata remaja di desa Viura menguasai Rune tingkat D atau C, terutama untuk Fennix yang memiliki Rune tingkat B. Tetapi untuk Alche, itu merupakan Hal yang sangat sulit, karena dia ternyata tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol Rune. Beberapa hari menjelang upacara itu Alche tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terlalu banyak memikirkan upacara yang tidak akan dapat ia lalui dengan sukses, yang kini telah menanti di hadapannya.
Fennix mendapat giliran pertama, dia maju ke arena dan seekor Forest Lynx dilepaskan ke dalam arena itu.Forest Lynx itu segera berlari menerkam Fennix, dengan sigap Fennix menghindari serangannya.
"Flame !!!" Fennix mengarahkan tangan kananya ke arah Forest Lynx itu, dan serangannya mengenai badan Forest Lynx tersebut. Pertempuran belum berakhir, Forest Lynx itu masih bisa bertahan, bangkit dan menyiapkan serangan berikutnya. Sementara Fennix telah bersiap-siap untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya.
"Frame of Divine Blast !!!" sebuah kotak api mengelilingi Forest Lynx itu dan tiba-tiba terjadi ledakan yang dahsyat dalam kotak itu. Forest Lynx itu mati seketika. Dengan serangan itu Fennix dinyatakan lulus tes Rune.
Alche, yang mendapat giliran terakhir semakin gelisah, dia tidak melepaskan pandangan matanya saat teman-temannya menjalani tes tersebut, dia berusaha mempelajari apa yang teman-temannya lakukan, tapi itu sia-sia, dia tidak dapat meyakinkan dirinya dan menjadi semakin gelisah.
Akhirnya tiba juga giliran Alche, dengan ragu-ragu dia berjalan menuju ke arena. Alche menarik nafas panjang saat seekor Forest Lynx dilepaskan. Forest Lynx itu, sama seperti Forest Lynx lainnya, segera berlari mendekati Alche untuk menerkamnya. Alche segera melompat kesamping untuk menghindari serangan Forest Lynx tersebut, berusaha untuk mengeluarkan energi Rune, tapi sia-sia. Alche tetap tidak dapat mengeluarkan kemampuan Rune. Serangan kedua dari Forest Lynx itu mengenai tangan kiri Alche, Alche segera mengarahkan tinjunya untuk melepaskan diri dari gigitan Forest Lynx yang kini melekat di tangan kirinya teman-temannya meneriaki dia.
"Ayo Alcheeeeee...Hajar dia" teriakan-teriakan itu membuat Alche semakin binngung. Berkali-kali Forest Lynx itu berusaha menerkam Alche, sementara Alche hanya bisa berlari kesana kemari menghindari serang-serangan yang dapat membunuhnya itu.
Tiga puluh menit berlalu, Alche hanya menghindar tanpa bisa memberikan banyak perlawanan. Pemimpin desa Viura akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tes, dan Alche dinyatakan gagal. Forest Lynx itu di tangkap oleh para penjaga yang telah bersiap di sekeliling arena dan Alche keluar dari arena dengan langkah lesu.
"Alche, maaf, tapi kamu tidak lagi diterima disini. Waktumu 24 jam untuk pergi dari desa ini" kata pemimpin desa Viura saat Alche menemuinya di luar arena. Alche merasa putus asa, dia terdiam berdiri di luar arena, dimana dia telah gagal dalam mempertahankan statusnya sebagai anggota clan Recca.

Hahn dan Fennix datang menghampiri Alche yang terdiam bagaikan patung. Hahn sebenarnya telah menduga hal ini, karena itu, stelah tiba di rumah Hahn mengajak Alchedan Fennix berbicara tentang kebenaran yang telah dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Alche...kamu bukanlah anak kandungku. Aku menemukanmu disebuah desa Commoner tiga belas tahun yang lalu. Desa itu hancur karena badai besar yang menghantam desa itu, dan kamu adalah satu-satunya orang yang selamat dari bencana itu. Karena itu kamu tidak mempunyai ingatan tentang masa kecilmu..." kata Hahn dengan wajah yang sangat sedih. Alche yang telah merasa kehilangan semangat hidupnya hanya bisa terdiam, dan menangis. Fennix yang duduk di sisi sama seperti Alche, dia juga hanya bisa terdiam tanpa kata-kata.
Malam itu Alche menyiapkan dirinya untuk meninggalkan Viura, Fennix hanya bisa melihat dengan tatapan mata kosong saat melihat saudara angkatnya itu bersiap-siap untuk pergi, dan mungkin itu adalah terakhir kalinya dia melihat Alche. Sementara Hahn menyembunyikan diri di kamarnya, dia merasa terlalu sedih untuk menunjukkan wajahnya kepada Fennix ataupun Alche. Pagi berikutnya mereka bangun pagi-pagi untuk mengantar Alche menuju gerbang keluar desa Viura.
"Alche, aku tetap menganggapmu sebagai anakku sendiri, dan Fennix pun pasti juga tetap menganggapmu sebagai saudara kandungnya sendiri" Kata Hahn begitu mereka tiba di gerbang, Fennix mengangguk berat mendengar ucapan Hahn,
"Jangan pernah menyerah apapun yang kamu lakukan, suatu hari kamu akan menemukan jalanmu sendiri Alche, ingatlah, jalanmu hanya kamu yang bisa menentukan dan bukan siapa-siapa,jangan mudah terpengaruh oleh orang lain, cukup percayalah dengan dirimu sendiri dan jalanilah jalanmu sesuai dengan apa yang kamu percayai..." itulah kata-kata terakhir yang Alche dengar dari Hahn. Fennix memegang erat pundak Alche dan menangis.
"Alche, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi kan?" kata Fennix sambil menatap mata Alche. Alche mengangguk pelan dan akhirnya dia berpaling pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia melangkah menuju dunia yang belum pernah dikenalnya, sendirian...



- End of Prologue -