Dawn Wars: Twilight of the Winds -Chapter #2- (uncomplete)

.:Dawn Wars: Twilight of the Winds :.


-Chapter #2 Promises-

" A man is a man of his words...
As words are proven by deeds"



Pagi itu Kou bangun pagi-pagi sekali dan memutuskan untuk berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Di salah satu sisi desa itu ada sebuah dermaga yang mengarah ke laut , para nelayan telah tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing- masing, Kou yang melihat kegiatan itu merasa tertarik dan mendekati mereka. Dia melihat bagaimana para nelayan itu menurunkan hasil tangkapan mereka, ikan yang mereka tangkap hari itu cukup banyak, sekilas Kou terbayang akan masa lalunya.

2 tahun sebelumnya....
Kou berjalan di pinggir sebuah pantai, dia sedang dalam tugasnya untuk mengumpulkan informasi dari Clan Muse. Saat itu dia melihat seorang gadis kecil sedang menangis dari kejauhan, karena merasa kasihan dia akhirnya mendekati gadis kecil itu.
"Hei...kamu nggak apa-apa?" Tanya Kou sambil membungkukkan badannya kearah gadis itu, gadis itu melihat kearah Kou dan segera berlari. Kou menegakkan badannya dan melihat kemana gadis itu pergi, gadis itu berlari ke sebuah rumah kecil tidak jauh dari tempat Kou berdiri. Kou melangkahkan kakinya mendekati rumah itu, saat sampai tepat di rumah itu Kou melihat pintu rumah itu terbuka, dan gadis itu duduk menangis di pojok ruangan, ruangan lebar yang menjadi satu-satunya ruangan yang ada di rumah itu. Perlahan Kou mendekati rumah itu dan masuk, gadis kecil itu semakin merasa ketakuan, dia semakin merapat kepojok ruangan.
"Hmm...maaf, aku bikin kamu takut yah?" Kou berhenti mendekati gadis itu, kemudian dia melihat sekelilingnya, kertas-kertas berserakan dimana-mana, Kou memungut salah satunya. Kou melihatnya dan di atas kertas itu tergambar lambang Clan Muse, dan dibawahnya tertulis [Tirtarus Museria]. Kou meletakkan kertas itu dan memandang ke arah gadis itu.
"Ini semua, gambaranmu?" tanya Kou sambil tersenyum, gadis itu tetap diam. Kou menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, dia sedang bingung, dalam hatinya dia ingin menolong gadis itu, tapi sekarang dia sedang dalam tugas yang penting. Saat Kou membuka matanya dia melihat secarik kertas lain, di atas kertas itu tertulis sebuah nama, Yuki Emerald.
"Yuki Emerald? namamu?" tanya Kou sambil menunjukkan kertas itu kepada gadis itu dan gadis itu mengangguk pelan, Kou mengulurkan tangannya.
"Kou, Kou Yukishiro" kata Kou sambil tersenyum. Yuki pelan-pelan meraih tangan Kou.

Kou duduk di samping Yuki, dia sudah tidak menangis lagi dan sepertinya dia sudah mulai tidak takut akan kehadiran Kou di dekatnya.
"Kenapa kamu disni? dimana orangtuamu?" tanya Kou, Yuki menoleh ke arah Kou, kemudian mengambil sebuah kertas dan mulai menulis. Dia memberikan kertas itu kepada Kou, Kou menerimanya kemudian membacanya.
'Aku ada disini karena aku ditolak oleh keluarga dan anggota clan ku, sekarang aku hanya seorang outcast, aku tidak punya orang tua lagi' Kou terkejut saat membacanya, dia mengalihkan pandangannya kearah Yuki dan melihat wajah sedih seorang anak berumur 5 tahun yang ada di sampingnya. Kou bangkit dan kembali megulurkan tangannya kepada Yuki.
"Kamu lapar ga? kita makan yuk" kata Kou, Yuki menatap Kou kemudian meraih tangan Kou, mereka berdua berjalan menyusuri pantai, berharap menemukan tempat dimana mereka bisa membeli makanan. Saat mereka berjalan mereka melihat beberapa nelayan sedang menurunkan ikan-ikan hasil tangkapan mereka, salah satu dari para nelayan itu tiba-tiba menghampiri mereka sambil membawa beberapa hasil tangkapan mereka.
"Yuki, lihat hasil tangkapanku hari ini banyak sekali, ini buat kamu" kata nelayan itu dengan senyumnya, Yuki tersenyum dan menerima ikan yang diberikan oleh nelayan itu.


'Plakk...!!' tiba-tiba Kou merasa ada yang menepuk pundaknya dengan keras, dia menoleh, Fayleen ada dibelakangnya sambil tersenyum dan membawa beberapa ekor ikan ditangannya.
"He he he...lihat seorang nelayan menjual ikan-ikan ini dengan harga yang sangat murah" kata Fayleen sambil menunjukkan ikan yang dibawanya. Kou yang baru tersadar dari lamunannya terdiam beberapa saat, Fayleen pun ikut bengong, dia melihat wajah Kou yang terlihat sedih.
"Huh, masih mau menyimpan masalahmu sendiri yah? ya sudah" kata Fayleen sambil berbalik dan beranjak pergi, meninggalkan Kou yang menatapnya dengan pandangan kecewa. Kou sangat menyukai ikan, karena itu dia segera berlari mengejar Fayleen ke Inn, Fayleen sudah sibuk memasak ikan itu di dapur inn. Fayleen melihat kehadiran Kou dan memasang wajah cemberut.
"Pemilik inn ini baik hati, aku diijinkan memakai dapur inn untuk masak ikan ini sendiri" kata Fayleen sambil terus memasak, Kou memandang Fayleen dengan wajah penuh harapan.
"Ehh? nggak ada bagian buat kamu" kata Fayleen sewot saat dia melihat ekspresi wajah Kou yang tampak seperti anak kecil yang berharap kepada orang tuanya. Kou menunduk, dan perlahan berjalan keluar dengan lesu, dia duduk di meja bar dan membaringkan kepalanya di meja bar. Tak lama kemudian Fayleen datang sambil membawa hasil masakannya.
"Wah enak......." kata Fayleen sambil duduk, Kou kembali menatap Fayleen dengan wajah penuh harapan membuat Fayleen tertawa saat melihat wajah Kou.
"Oke, kamu boleh makan" kata Fayleen, membuat ekspresi wajah Kou berubah gembira.
"Tapi, janji, nanti kamu akan cerita masalahmu" lanjut Fayleen, Kou mengangguk dengan semangat, Fayleen tersenyum, mereka berdua pun akhirnya mulai makan.

2 Tahun sebelumnya...
Yuki yang menerima ikan pemberian nelayan itu tersenyum, seakan kesedihan yang tadi dirasakannya menghilang begitu saja. Kou diam-diam memperhatikan perubahan emosi Yuki, dan saat dia melihat senyum Yuki yang begitu polos dia meyakinkan dirinya untuk menolong gadis kecil itu. Yuki menarik tangan Kou dan mengajaknya kembali ke rumah sempit itu lagi, di dalam Yuki membersihkan dan memasak ikan itu, sebentar saja ikan itu telah menjadi hidangan yang membuat Kou merasa ingin segera menyantapnya. Mereka berdua makan dengan lahap, keinginan Kou untuk menolong anak itu semakin kuat saat dia melihat Yuki makan dengan lahapnya, wajah mungil Yuki yang belepotan saat makan membuat Kou tertawa.

Tiba saatnya untuk Kou kembali ke Pandemonia untuk melaporkan hasil pantauannya, Kou mengajak Yuki untuk ikut bersamanya. Setelah berpamitan dengan nelayan baik hati itu mereka segera berangkat menuju Pandemonia. Kou meninggalkan Yuki di rumahnya saat mereka tiba di Pandemonia, dan dia segera menemui pemimpin desa Pandemonia untuk memberikan laporannya sekaligus meminta ijin untuk merawat Yuki.
"Ketua, clan Muse saat ini sedang melatih organisasi mereka, Order of Sylmeria untuk menghadapi Dawn Wars kedua nanti. Tapi sepertinya mereka tidak berniat untuk berperang, mereka melatih pasukan mereka untuk menjadi Priest. Sepertinya kita tidak perlu mengadakan permusuhan dengan mereka" kata Kou di depan pemimpin clan Gale memberikan laporannya.
"Tugasmu hanyalah sebagai pengawas, apa langkah selanjutnya itu hanya kami, para [Elder of Galeus] yang memutuskan, sekarang kembalilah ke rumahmu dan bersiaplah untuk perintah berikutnya" kata pemimpin clan Gale itu.
"Baik ketua, dan, ah...Bisa saya meminta ijin untuk merawat seorang anak yang kebetulan saya temukan dalam perjalanan? dia tidak punya siapa-siapa lagi" kata Kou.
"Anak yang kamu bawa itu, dia anggota clan Muse, dia tidak diterima disini" jawab sang pemimpin, menolak permintaan Kou.
"Tapi, dia seorang outcast, dia bukan lagi anggota clan Muse" Kou berusaha untuk mempertahankan permintaanya.
"Kou, sekali anggota clan lain, berarti orang itu akan tetap menjadi musuh kita" kata sang ketua tetap pada pendiriannya.
"Tapi..." belum selesai Kou bicara, kata-kata Kou segera dipotong oleh sang Ketua.
"Tidak bisa!! kalau kamu tetap memaksa, kamu akan dikeluarkan dari desa ini, peraturan adalah peraturan, bagi yang melanggar peraturan akan diberikan hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya" Sang ketua mulai mengancam Kou, kou tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia segera meninggalkan ruang pertemuan dan kembali ke rumahnya.

Saat tiba dirumahnya Kou disambut oleh Yuki, Kou terdiam saat melihat Yuki berlari kearahnya sambil tersenyum, sakan-akan mengatakan 'selamat datang di rumah Kou'. Kou mengajak Yuki masuk kerumah dan menceritakan tentang apa yang ketua clan katakan.
"Yuki, kamu tidak diterima disini, bagaimanapun kamu tetap berasal dari clan Muse, dan kalau aku tetap berusaha untuk merawatmu, aku juga akan menjadi seorang outcast" kata Kou sambil memegan kepala Yuki, wajah Yuki berubah menjadi sedih, dia kemudian berlari dan mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu diatasnya, kemudian memberikannya kepada Kou.
'Kou aku tidak apa-apa kok, aku bisa hidup sendiri di [Celes Beach]. Terima kasih sudah berusaha untukku, aku sangat senang' Kou menjadi sangat sedih saat mebaca tulisan Yuki itu, dia melihat Yuki dan kemudian memeluknya.Kou merasakan rasa kesepian yang dialami oleh Yuki, karena selama ini dia juga diacuhkan oleh keluarganya. Yuki berjalan keluar, di depan rumah Kou telah bersiap beberapa orang yang akan mengantar Yuki. Kou melihat kepergian Yuki dari depan rumahnya, sesaat kemudian dia memantapkan hatinya dan berlari menemui ketua clan.
"Ketua, maaf, mulai hari ini, aku bukan lagi anggota clan Gale lagi" kata Kou, kemudian dia segera berbalik dan mengejar Yuki.
"Hmm...Kalau begitu kamu sudah memutuskan untuk menjadi lawan kami, KOU..." kata ketua clan saat melihat Kou pergi.
"Yuki tunggu..." teriak Kou saat dia berhasil mengejar Yuki, para pengawal yang mengawal Yuki segera menarik pedang mereka.
"Kou, dia tidak layak untuk tinggal disini" kata salah satu dari pengawal itu.
"Dia tidak perlu tinggal disini, aku yang akan pergi bersamanya" jawab Kou dengan nafas yang memburu, para pengawal itu terkejut mendengar kata-kata Kou.
"Kenapa...? Demi seorang anak dari clan Muse kamu mau meninggalkan clanmu sendiri?" salah saru pengawal itu bertanya kepada Kou.
"Karena dia lebih membutuhkanku daripada clan ini" jawab Kou sambil mendekati Yuki dan beranjak pergi, menghilang ditengah lebatnya hutan yang menyembunyikan desa Pandemonia.
Kou berjalan bersama Yuki menyusuri hutan itu, mengandeng tangan Yuki dengan erat sambil terus meyakinkan hatinya bahwa ini adalah jalannya, dan ini adalah jalan yang tepat. Yuki melihat wajah Kou yang saat itu terlihat begitu kacau, kemudian dia menunduk sedih, dia merasa telah menyusahkan Kou.
"Yuki..." tiba-tiba kou memanggil Yuki, Yuki mengangkat kepalanya kearah Kou, memandangnya dengan wajah yang seakan bertanya 'ada apa?'
"Mulai sekarang...aku yang akan menjagamu" kata Kou sambil tersenyum, dia sudah yakin dengan keputusannya, Yuki masih menatap wajah Kou, perlahan dia mulai tersenyum.
"Janji, aku akan selalu menjagamu, mulai sekarang kamu nggak akan kesepian lagi" kata Kou sambil membungkuk dan memegang kepala Yuki dan Yuki mengembangkan senyum di wajah kecilnya.


Kou berhenti bercerita,menyandarkan diri di kursinya dan menarik nafas panjang. Fayleen yang terkesan dengan cerita Kou masih terpaku menatap Kou.
"Yah, itu yang jadi masalahku, sekarang aku malah meninggalkan dia kepada Apostle of Destiny, semoga dia baik-baik saja yah" kata Kou sambil menatap ke langit-langit. Fayleen berdiri tanpa menjawab pertanyaan Kou.
"Ternyata, di dunia ini masih ada orang baik yah?" kata Fayleen sambil tersenyum dan berjalan keluar inn, meninggalkan Kou yang sedikit terkejut dengan kata-kata Fayleen. Kou kembali menarik nafas panjang dan akhirnya juga beranjak keluar untuk kembali mencari informasi tentang Alche. Di luar inn Kou melihat para penduduk sedang berkerumun, dengan rasa heran Kou mendekati kerumunan itu, Fayleen sudah berada di sana, tanpa menyadari kehadiran Kou.
"Ada apa?" tanya Kou
"Hah?? oh Kou..." kata Fayleen terkejut.
"Ada pencuri yang tertangkap" lanjut Fayleen.
Kou melihat ke tengah-tengah kerumunan, dia melihat seorang laki-laki dengan jubah yang lusuh sedang di hajar oleh para penduduk.
"Enflame!!"
Tiba-tiba saja tanah di dekat kerumunan itu meledak, seorang laki-laki lain muncul dari kejauhan.
"Jauhi dia! kalau tidak aku akan membunuh kalian semua!" kata laki-laki itu.
"Kalian Cerberus hanya bisa membuat keributan saja, cepat pergi dari desa ini sebelum kami benar-benar marah" kata seorang penduduk, kemudian kerumunan itu bubar.

Laki-laki itu kemudian berlari mendekati temannya dan membantunya berdiri sambil menoleh dengan dengan geram kearah para penduduk yang tadinya memukuli temannya, kemudian dia kembali memandang kearah temannya.
"Flarren, kamu nggak apa-apa kan?" tanya laki-laki itu, temannya yang tadi dihajar warga itu hanya mengangguk pelan.
"Ah, kalian pasti anggota [Card Alchemist Cerberus ] kan?" tanya Fayleen.
"Ya, kami anggota Card Alchemist Cerberus, aku Felix Far Highwind, dan ini Flarren Leonheart " jawab laki-laki itu, sambil membantu temannya bangkit berdiri.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Fayleen.
"Arc meminta kami untuk mengkonfirmasi keberadaan Deshtal" jawab Felix.
"Hm? Apa hubungannya Cerberus dengan Deshtal?" tanyan Fayleen sambil mendekati Flarren dan melihat luka-lukanya.
"Untuk mencegah Dawn Wars" jawab Flarren pelan, Fayleen hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Kemudian dia mengeluarkan obat-obatan yang dia simpan di tas pinggangnya dan mengobati luka-luka Flarren.
"Kenapa sampai harus mencuri seperti ini?" tanya Fayleen kepada Flarren sementara dia mengobati luka Flarren, Flarren terdiam sesaat mendengar pertanyaan Fayleen.
"Aku...Aku..." belum selesai Flarren menjawab Felix memotong kata-kata Flarren.
"Kami cuma ingin mengambil apa yang dicuri dari kami" Fayleen terdiam, membetulkan posisi kacamatanya dan kembali meneruskan pengobatannya kepada Flarren.
"Sudah selesai, kamu akan baik-baik saja" kata Fayleen.
"Terima kasih" jawab Flarren singkat.
"Kalian berhati-hatilah, banyak orang yang tidak menyukai kalian, sampai jumpa" kata Fayleen sambil beranjak pergi meninggalkan mereka, diikuti dengan Kou.

Kou hanya mengekor di belakang Fayleen saat Fayleen mengumpulkan informasi tentang Deshtal kepada para penduduk. Seharian itu mereka mengumpulkan informasi, dan tidak ada hasil yang memuaskan bagi mereka berdua, sore harinya mereka kembali ke inn karena kelelahan. Mereka berdua duduk di bar inn sambil makan, Fayleen menatap wajah Kou, ada yang dia pikirkan, dan dugaan Fayleen tentang Kou selalu benar.
"Flarren itu, aku seperti mengenalnya" kata Kou, Fayleen tersenyum mendengar perkataan Kou.
"Haha...kamu sudah mau membuka diri yah?" tanya Fayleen menggoda Kou, Kou mengalihkan pandangannya ke atap sambil memegangi lehernya.
"Yah, mungkin" jawab Kou singkat. Mereka kembali diam sesaat, Fayleen terus memandang wajah Kou, dan Kou hanya diam saja sambil meneruskan makannya. Setelah makan mereka menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Kou duduk di dekat jendela kamarnya yang lebar, dia melihat ke atas, ke arah bintang-bintang yang bertebaran di langit malam itu. Wajahnya terlihat sedih, Kou meraih sesuatu dari sakunya, sebuah kalung dengan aksesoris sebuah batu langka tergantung di kalung itu, kemudian dia memandangi barang itu dan bayangan masa lalunya kembali muncul dihadapannya...

2 Tahun Sebelumnya...
Kou dan Yuki tiba di sebuah kota yang cukup besar, dari papan di depan kota itu mereka mengetahui kota itu bernama [Inercia City], kota yang cukup sibuk dengan banyaknya orang yang berjalan kesana-kemari, kota itu memiliki teknologi yang sangat maju, dilihat dari adanya beberapa pabrik dan banyaknya kendaraan yang sudah menggunakan mesin, berbeda dengan yang selama ini mereka gunakan, selain dengan menggunakan hewan tunggangan dan kereta api, di kota ini ada kendaraan yang ukurannya jauh lebih kecil dan bermesin. Mereka memasuki kota itu dan mulai mencari tempat untuk bermalam, dan mereka dengan segera dapat menemukan inn. Mereka menuju bar di inn itu untuk makan, setelah memesan makanan mereka berdua duduk dan mulai makan. Saat itu Kou melihat seorang laki-laki berambut coklat dan mengenakan jubah masuk ke bar itu bersama seorang anak kecil, kemudian mereka duduk makan. Kou memperhatikan mereka, dia tersenyum, kemdian dia melihat Yuki yang sedang makan dengan lahapnya, Yuki berhenti makan saat Kou menatapnya dan memberikan seyuman kepada Kou, Kou terseyum dan kembali makan. Sesaat setelah mereka selesai makan Kou kembali memperhatikan laki-laki dan anak kecil itu, mereka sudah selsesai makan, dan setelah laki-laki itu membayar makanannya dia mengusap kepala anak kecil itu, anak itu tersenyum kemudian dia mengucapkan terima kasih dan pergi, sementara laki-laki itu berjalan menuju ke dalam inn. Kou terheran dengan apa yang dilihatnya, dia segera bangkit.
"Yuki, ayo kita istirahat" Kata Kou sambil mengulurkan tanganya kepada Yuki, Kou menggandeng tangan Yuki. Setelah membayar makanan mereka, Kou berjalan menuju ke kamarnya sambil tetap menggandeng Yuki. Saat tiba di kamar mereka, Kou kembali melihat laki-laki itu, dia sedang berbicara dengan laki-laki lain, seseorang dengan rambut lurus pendek berwarna hitam yang terlihat sangat tenang . Kou tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka.
"Arc, rumor tentang Dawn Wars sudah menyebar, kabarnya ada satu kelompok yang mencoba membangkitkan kembali the Priests untuk mencegah Dawn Wars, dan mereka sama sekali tidak melihat perbedaan golongan, baik antar clan ataupun commoner, mungkin kita bisa bergabung dengan mereka untuk mencegah Dawn Wars" kata laki-laki berjubah itu kepada temannya, Arc.
"Yah, kita bisa bergabung dengan mereka, kita punya tujuan yang sama, paling tidak semakin banyak semakin bagus, konfirmasikan lokasi mereka dan beritahu Felix tentang ini" kata Arc.
"Lokasi mereka saat ini berada di dekat desa tersembunyi clan air, Tirtarius. Aku akan memeriksa ulang lokasi pastinya dan mengabari Felix tentang hal ini" kata laki-laki itu.
"Terimakasih, Flarren" balas Arc, kemudian Flarren segera berlalu, Kou kemudian mendekati Arc.
"Permisi, boleh tanya?" tanya Kou.
"Ya? ada yang bisa dibantu?" jawab Arc.
"Tentang Order of Sylmeria itu, aku tahu lokasi pastinya, apa benar mereka mau menerima siapa saja?" tanya Kou lagi.
"Dari cerita Flarren seharusnya begitu" jawab Arc, Kou tersenyum mendengar jawaban Arc, sementara Yuki memandangi Kou dengan bingung.
"Tadi kamu bilang kalau kamu tahu lokasi pasti Order of Sylmeria, apa kamu bisa mengantarkan kami kesana?" tanya Arc.
"Yah, dengan senang hati" jawab Kou dengan tersenyum, Arc kemudian mengulurkan tangannya.
"Arch Millich Fortehydes, senang bertemu denganmu" kata Arc setelah Kou meraih tangan Arc.
"Kou, Kou Yukishiro, senang bertemu denganmu juga, dan ini Yuki Emerald, ehmm...dia tidak banyak bicara" kata Kou, Arc memandang Yuki dan tersenyum.
"Besok kita ketemu di bar inn ini" kata Arc sambil mengalihkan pandangannya kepada Kou, Kou menganggukan kepalanya.
"Sampai besok" kata Kou, dan mereka beranjak menuju kamar mereka masing-masing.


Kou tersadar dari lamunannya, sekarang dia ingat tentang Flarren, kenapa dia merasa mengenalnya, dia memang mengenal Flarren walau hanya sepintas, dan sekarang dia benar-benar ingat pertemuannya dengan Flarren dua tahun lalu, yang membawanya kepada Order of Sylmeria. Dia bangkit dari tempatnya duduk, beranjak keluar dari kamarnya menuju kamar Fayleen, dia baru menyadari hari telah larut malam saat dia hendak mengetuk pintu kamar Fayleen.
"Hahah...kenapa aku ini yah?" Kou berbicara pada dirinya sendiri sambil tertawa, kemudian dia berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Dia membaringkan dirinya dan berusaha untuk tidur.

'Tok tok tok' Kou terbangun karena suara ketukan pintu kamarnya. Dia bangkit dan membuka pintu, Fayleen sudah berdiri di depan pintu itu dengan wajah marah, Kou yang tadinya terlihat lesu karena masih mengantuk menjadi benar-benar 'sadar'.
"Kamu tahu ini jam berapa?" tanya Fayleen dengan nada marah.
Kou menggaruk kepalanya sambil menoleh kesana kemari mencari sebuah jam. Dia benar-bnar tidak tahu jam berapa waktu itu, dan dia juga tidak sadar kalau dia sudah benar-benar kesiangan.
"Ahh...aku tidak tahu" jawab Kou dengan wajah tidak berdosa.
"Ini sudah jam 11, mau tidur sampai jam berapa kamu?!!" tanya Fayleen setngah berteriak dan 'plaak' tinju Fayleen mendarat di wajah Kou, membuat Kou mundur beberapa langkah.
"Ou...aduh, hei, kamu ini suka sekali memukul orang yah?" tanya Kou sambil memgangi wajahnya yang kesakitan. Fayleen hanya memasang muka sewot, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kou sambil menggerutu.
"Dasar orang tidak berguna"

Tidak ada komentar: