.:Dawn Wars: Twilight of the Winds :.
-Prologue: A Boy of no Talent-
-Prologue: A Boy of no Talent-
Dunia [Almadia] diciptakan oleh lima Dewa, empat dari kelima Dewa tersebut menciptakan planet Almadia dengan kekuatan elemen yang mereka kuasai. Sylmeria sang Air, Agito sang Api, Rudra sang Angin dan Clement sang Tanah. Mereka bersatu untuk membentuk dan menciptakan planet Almadia, sedangkan satu Dewa lagi yaitu Arua sang Cahaya adalah Dewa yang menciptakan segala bentuk kehidupan di Almadia.
Setelah mereka menciptakan Almadia dan segala kehidupan yang ada di dalamnya, mereka kembali ke Edenia, dunia dimana mereka berasal. Selama ratusan tahun mereka hanya berperan sebagai pengawas segala kehidupan dan keseimbangan yang ada di Almadia. Di saat-saat itu kedamaian menyelimuti dunia Almadia ini, dan penduduk Almadia menghormati kelima Dewa tersebut. Hingga suatu saat para penduduk Almadia bersatu dan mendirikan [Tower of Babel] dengan tujuan untuk bisa menyamai kelima Dewa tersebut. Hal itu mebuat empat Dewa yang membentuk Almadia menjadi berseteru dan saling menyalahkan, sehingga membuat Arua sang Cahaya menjadi marah dan menghancurkan menara tersebut dan memecah belah penduduk Almadia menjadi empat bagian. Keempat Dewa tidak lagi dapat mempercayai Dewa yang lain sehingga Arua memberikan otoritas kepada keempat Dewa untuk menanugerahkan kekuatan mereka kepada penduduk Almadia.
Penduduk Almadia yang terpecah belah dan memiliki Kekuatan Anugerah, [Rune] akhirnya saling berperang, perang itu dikenal dengan nama [Dawn Wars], Perang Fajar/Perang Permulaan. Segalanya menjadi berubah, Almadia kini menjadi dunia yang penuh terror dan kekejaman. Melihat keadaan yang seperti ini Arua sang Cahaya akhirnya meminta keempat Dewa untuk menghentikan perang dan membatasi pemberian Rune kepada orang-orang tertentu. Sejak saat itu penerima Rune akhirnya semakin berkurang dan akhirnya hanya tersisa sedikit, mereka yang memiliki kekuatan Rune akhirnya menjauhkan diri dari penduduk yang tidak memiliki kekuatan. Mereka membangun desa-desa yang tersembunyi dan membentuk clan menurut kekuatan Rune mereka. Itulah awal mula dari terbentuknya empat clan yaitu [Muse], mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Sylmeria sang Air. [Recca], yaitu mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Agito sang api. [Gale], yaitu mereka yang menerima Kekuatan Anugerah dari Rudra sang Angin. Dan [Gaea] yang menerima Kekuatan Anugerah dari Clement sang Tanah.
Desa yang dibangun oleh para penerima Kekuatan Anugerah ini dibangun di suatu tempat dekat dengan segel yang telah di tempatkan oleh masing-masing Dewa pemberi Kekuatan Anugerah,yaitu [Circle]. Sementara mereka yang tidak menerima Kekuatan Anugerah akhirnya kembali menjalani kehidupan normal sehingga Almadia perlahan kembali menjadi dunia yang damai, meskipun dalam bayang-bayang keempat clan ini masih terus saling bermusuhan...
'Plakkk....!!!' sebuah kapur dilemparkan oleh Fayleen, Alche yang tertidur segera terbangun karena terkejut saat kapur itu menghantam kepalanya.
"Alche !!! lagi-lagi kamu tidur waktu pelajaranku, sekarang keluar dan berdiri di luar kelas !!!" Fayleen berteriak dengan marah
"Ya Bu Fayleen..." jawab Alche sambil bangkit dan berjalan keluar kelas dengan lesu.
"Hoaaaaammmm...." Alche menguap saat berjalan di depan Fayleen, dan Fayleen sudah siap dengan sebuah penghapus papan di tangannya. 'Plaakkkk...' penghapus itu melayang dan menghantam kepala Alche, membuat Alche memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan.
"Menguap sekali lagi kubunuh kau !!!" kata Fayleen sambil menatap tajam ke arah Alche, Alche segera berlari keluar kelas karena ketakutan, membuat anak-anak di kelasnya tertawa. Alche memang dikenal sebagai anak yang pemalas di sekolahnya, dia seringkali tidur saat pelajaran. Meskipun secara fisik dia sangat keren dengan rambut pirang keputihan, dia sangat menarik banyak perhatian gadis di sekolahnya, Tapi karena sifat Alche yang dingin dan cuek membuat mereka enggan mendekatinya.
Bel tanda berakhirnya waktu sekolah berbunyi, seperti biasanya Alche pulang bersama saudaranya, Fennix yang juga satu kelas dengannya.
"Lagi-lagi tidur waktu pelajaran Alche???" kata Fennix sambil tertawa. Fennix selalu menggoda saudaranya yang memang malas dan tidak punya bakat itu.
"Pelajaran sejarah yang membosankan" jawab Alche, masih dengan wajah murungnya. Berbeda denga Alche, Fennix adalah seorang anak yang berbakat dan pandai, dia bahkan sudah menguasai Rune tingkat B, tingkatan yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Satu-satunya kekurangan Fennix dari Alche adalah fisiknya yang tidak begitu menarik perhatian gadis-gadis seperti Alche, kadang itu membuat Fennix sedikit iri dangan Alche. Mereka berdua berjalan menuju rumah mereka yang terletak di ujung desa, [Village of Viura]. Viura adalah desa tersembunyi yang didiami oleh orang-orang yang menerima Kekuatan Anugerah dari Agito sang Api. Desa itu cukup kecil, hanya ada beberapa rumah penduduk dengan sebuah rumah besar di tengah desa, tempat pemimpin desa, sebuah sekolah dan sebuah altar yang cukup besar, dimana Circle of Agito berada, altar itu juga mendai semacam arena untuk berlatihpenduduk dan upacara-upacara mereka. Akhirnya mereka tiba di rumah dan disambut oleh ayah mereka,Hahn, seperti hari-hari biasanya.
"Bagaimana sekolah hari ini?" tanya Hahn sambil tersenyum.
"Membosankan" jawab Alche lesu.
"Menyenangkan" jawab Fennix sambil tersenyum dan melirik ke arah Alche.
"Jangan lupa tiga hari lagi kalian akan mengikuti tes Rune di [Circle of Agito] kalau kalian gagal, kalian akan diusir dari desa" Kata Hahn saat mereka berjalan memasuki rumah. Dalam clan Recca ada suatu upacara yang diadakan saat seorang anak mencapai umur tujuh belas tahun, yaitu tes Rune. Dalam upacara tersebut keahlian seseorang dalam mengontrol Rune akan diuji dan bagi mereka yang gagal akan diusir dari desa, bergabung dengan orang-orang yang tidak menerima Kekuatan Anugerah, [Commoner]. Orang-orang yang terusir itu dikenal dengan nama [Outcast].
Waktu ujian tiba, ada tiga orang anak lain yang ikut serta dalam upacara itu selain Alche dan Fennix. Ujiannya cukup sederhana, mereka diminta untuk mengalahkan seekor [Forest Lynx ] dengan menggunakan Rune yang mereka kuasai, yaitu Fire Rune. Bukan hal yang sulit memang, rata-rata remaja di desa Viura menguasai Rune tingkat D atau C, terutama untuk Fennix yang memiliki Rune tingkat B. Tetapi untuk Alche, itu merupakan Hal yang sangat sulit, karena dia ternyata tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol Rune. Beberapa hari menjelang upacara itu Alche tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terlalu banyak memikirkan upacara yang tidak akan dapat ia lalui dengan sukses, yang kini telah menanti di hadapannya.
Fennix mendapat giliran pertama, dia maju ke arena dan seekor Forest Lynx dilepaskan ke dalam arena itu.Forest Lynx itu segera berlari menerkam Fennix, dengan sigap Fennix menghindari serangannya.
"Flame !!!" Fennix mengarahkan tangan kananya ke arah Forest Lynx itu, dan serangannya mengenai badan Forest Lynx tersebut. Pertempuran belum berakhir, Forest Lynx itu masih bisa bertahan, bangkit dan menyiapkan serangan berikutnya. Sementara Fennix telah bersiap-siap untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya.
"Frame of Divine Blast !!!" sebuah kotak api mengelilingi Forest Lynx itu dan tiba-tiba terjadi ledakan yang dahsyat dalam kotak itu. Forest Lynx itu mati seketika. Dengan serangan itu Fennix dinyatakan lulus tes Rune.
Alche, yang mendapat giliran terakhir semakin gelisah, dia tidak melepaskan pandangan matanya saat teman-temannya menjalani tes tersebut, dia berusaha mempelajari apa yang teman-temannya lakukan, tapi itu sia-sia, dia tidak dapat meyakinkan dirinya dan menjadi semakin gelisah.
Akhirnya tiba juga giliran Alche, dengan ragu-ragu dia berjalan menuju ke arena. Alche menarik nafas panjang saat seekor Forest Lynx dilepaskan. Forest Lynx itu, sama seperti Forest Lynx lainnya, segera berlari mendekati Alche untuk menerkamnya. Alche segera melompat kesamping untuk menghindari serangan Forest Lynx tersebut, berusaha untuk mengeluarkan energi Rune, tapi sia-sia. Alche tetap tidak dapat mengeluarkan kemampuan Rune. Serangan kedua dari Forest Lynx itu mengenai tangan kiri Alche, Alche segera mengarahkan tinjunya untuk melepaskan diri dari gigitan Forest Lynx yang kini melekat di tangan kirinya teman-temannya meneriaki dia.
"Ayo Alcheeeeee...Hajar dia" teriakan-teriakan itu membuat Alche semakin binngung. Berkali-kali Forest Lynx itu berusaha menerkam Alche, sementara Alche hanya bisa berlari kesana kemari menghindari serang-serangan yang dapat membunuhnya itu.
Tiga puluh menit berlalu, Alche hanya menghindar tanpa bisa memberikan banyak perlawanan. Pemimpin desa Viura akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tes, dan Alche dinyatakan gagal. Forest Lynx itu di tangkap oleh para penjaga yang telah bersiap di sekeliling arena dan Alche keluar dari arena dengan langkah lesu.
"Alche, maaf, tapi kamu tidak lagi diterima disini. Waktumu 24 jam untuk pergi dari desa ini" kata pemimpin desa Viura saat Alche menemuinya di luar arena. Alche merasa putus asa, dia terdiam berdiri di luar arena, dimana dia telah gagal dalam mempertahankan statusnya sebagai anggota clan Recca.
Hahn dan Fennix datang menghampiri Alche yang terdiam bagaikan patung. Hahn sebenarnya telah menduga hal ini, karena itu, stelah tiba di rumah Hahn mengajak Alchedan Fennix berbicara tentang kebenaran yang telah dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Alche...kamu bukanlah anak kandungku. Aku menemukanmu disebuah desa Commoner tiga belas tahun yang lalu. Desa itu hancur karena badai besar yang menghantam desa itu, dan kamu adalah satu-satunya orang yang selamat dari bencana itu. Karena itu kamu tidak mempunyai ingatan tentang masa kecilmu..." kata Hahn dengan wajah yang sangat sedih. Alche yang telah merasa kehilangan semangat hidupnya hanya bisa terdiam, dan menangis. Fennix yang duduk di sisi sama seperti Alche, dia juga hanya bisa terdiam tanpa kata-kata.
Malam itu Alche menyiapkan dirinya untuk meninggalkan Viura, Fennix hanya bisa melihat dengan tatapan mata kosong saat melihat saudara angkatnya itu bersiap-siap untuk pergi, dan mungkin itu adalah terakhir kalinya dia melihat Alche. Sementara Hahn menyembunyikan diri di kamarnya, dia merasa terlalu sedih untuk menunjukkan wajahnya kepada Fennix ataupun Alche. Pagi berikutnya mereka bangun pagi-pagi untuk mengantar Alche menuju gerbang keluar desa Viura.
"Alche, aku tetap menganggapmu sebagai anakku sendiri, dan Fennix pun pasti juga tetap menganggapmu sebagai saudara kandungnya sendiri" Kata Hahn begitu mereka tiba di gerbang, Fennix mengangguk berat mendengar ucapan Hahn,
"Jangan pernah menyerah apapun yang kamu lakukan, suatu hari kamu akan menemukan jalanmu sendiri Alche, ingatlah, jalanmu hanya kamu yang bisa menentukan dan bukan siapa-siapa,jangan mudah terpengaruh oleh orang lain, cukup percayalah dengan dirimu sendiri dan jalanilah jalanmu sesuai dengan apa yang kamu percayai..." itulah kata-kata terakhir yang Alche dengar dari Hahn. Fennix memegang erat pundak Alche dan menangis.
"Alche, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi kan?" kata Fennix sambil menatap mata Alche. Alche mengangguk pelan dan akhirnya dia berpaling pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia melangkah menuju dunia yang belum pernah dikenalnya, sendirian...
- End of Prologue -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar